Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Anda Merasa Berbakat tapi Kinerja tak Optimal? Mungkin Ini Sebabnya

Selasa 28 Jun 2016 17:05 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Mohamad Soleh saat memberikan pelatihan bekerjasama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Dalam Negeri (BPSDM Kemendagri), Rabu (22/6).

Mohamad Soleh saat memberikan pelatihan bekerjasama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Dalam Negeri (BPSDM Kemendagri), Rabu (22/6).

Foto: AIDA

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang memiliki potensi besar namun tidak memiliki kinerja ideal seperti yang diharapkan. Bahkan terkadang menjadi salah satu sumber masalah bagi rekan kerja lainnya.

Psikolog Mohamad Saleh mengatakan tidak optimal potensi tersebut salah satu sumber masalahnya disebabkan oleh masalah-masalah psikologis (rasa sakit hati, kebencian, dendam, curiga yang berlebihan, marah yang tidak terkendali, terkendali, phobia, cemas yang akut, rasa rendah diri dan tidak berarti) yang belum terselesaikan.

Penulis buku Smart Empowerment Technique (SET) mengatakan dalam ilmu psikologi, kondisi tersebut dinamakan, unfinish business problem. Masalah-masalah yang belum terselesaikan yang pada akhirnya menjadi penghalang munculnya potensi kita yang sebenarnya sangatlah powerfull.

Ketidakberhasilan dalam pembinaan ini menurut Soleh disebabkan karena pembinaan dan pendidikan kita belum mengikuti salah satu petunjuk dari Alquran surat Al Jumu'ah ayat 2 dan Al Imran 164. Dalam ayat tersebut ditafsirkan secara sederhana bahwa dalam melaksanakan pembinaan/pendidikan (tarbiyah) ada 4 hal utama yang harus dilakukan, yaitu membacakan (menjelaskan dengan efektif), menyucikan jiwa (membersihkan masalah-masalah psikologis/penyakit hati), mengajarkan kitab (mendidik dengan cara memberikan pedoman tertulis seperti Alquran) dan hikmah (mendapatkan pemahaman melalui teladan Rasulullah atau as-Sunnah).

Menurut dia, kebanyakan para pimpinan, trainer hanya baru menjalankan point no 1, yaitu menjelaskan dengan efektif. Seringkali mereka lupa dengan poin no 2, yaitu membersihkan masalah-masalah psikologis yang menghambat proses penyerapan informasi dan optimalisasi potensi. Bahkan bisa jadi, point no 3 yaitu mendidik dengan cara memberikan pedoman tertulis, dan point no 4, memberikan pemahaman melalui teladan juga belum dilakukan dengan efektif.  

"Jadi, jangan berharap pembinaan kita akan berhasil, kalo belum beres masalah psikologis orang yang kita bina," kata dia, saat memberikan pelatihan bekerjasama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Dalam Negeri (BPSDM Kemendagri), Rabu (22/6).

Di samping itu, ada hambatan besar lainnya dalam penerapan ilmu konseling dan coaching. Saat ini, yang berlaku umum dalam setiap konseling konvensional, pegawai dituntut untuk mengungkap atau menceritakan masalahnya secara detail atau bermasalah dengan siapa? Hal inilah yang masih sulit diterapkan di Indonesia, karena budaya sikap menutupi masalah merupakan tuntutan psikologis alamiah dari masyarakat.

Untuk semakin membudayakan bersifat positif, Soleh yang merupakan penggagas program nasional Empowering Indonesia terus digalakkan di berbagai kalangan. Dia merasa perlu bekerja sama dengan lembaga negara yang bertanggung jawab dalam memberdayakan para pegawai PNS pemerintah daerah. Salah satunya dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Dalam Negeri (BPSDM Kemendagri) melalui pelatihan Coaching Counseling based on SET kepada para Widya Iswara (Pelatih) dan para pimpinan-pegawai di BPSDM Kemendagri.

Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan peserta agar lebih efektif lagi dalam memberikan pelatihan kepada para peserta pelatihan atau ketika mendidik para pegawai PNS lainnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA