Sunday, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 January 2020

Sunday, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 January 2020

Tiga Pabrik Tepung Terigu Baru Naikkan Impor Gandum 8 Persen

Rabu 22 Jun 2016 13:27 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Pekerja memlakukan bongakar muat tepung terigu di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta,?Kamis (12/6).

Pekerja memlakukan bongakar muat tepung terigu di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta,?Kamis (12/6).

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Wellirang mengatakan, tahun ini terdapat tiga pabrik tepung terigu baru yang mulai beroperasi. Ketiga pabrik baru tersebut yakni PT Nutrindo Bogarasa (Mayora Group) di Cilegon, PT Paramasuka Gupita (Wings Group) di Marunda, dan PT Cerestar FM di Medan dengan total kapasitas sebesar 1.500 ton giling gandum per hari.

"Dengan adanya tiga pabrik baru tersebut, maka secara keseluruhan ada 30 industri tepung terigu dengan kapasitas giling 11 juta ton per tahun," ujar pria yang akrab disapa Franky tersebut usai bertemu dengan Menteri Perindustrian di Jakarta, Rabu (22/2).

Franky menjelaskan, saat ini harga pasar terigu cenderung stabil dan tidak mengalami gejolak. Pada kuartal I 2016 total produksi gandum mencapai 2,9 juta ton, jumlah tersebut terdiri dari 800 ribu ton untuk feed mill dan sebanyak 2,1 juta ton untuk terigu.

Ketiga pabrik yang dibangun tersebut sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun menurut Franky hal ini tidak berpengaruh terhadap kebutuhan tepung terigu nasional. Franky menegaskan, pasokan tepung terigu nasional sangat mencukupi terutama untuk pemenuhan kebutuhan Ramadhan dan Lebaran.

"Hal paling penting bagi industri yakni memberikan pemenuhan kebutuhan kepada UMKM yang jumlahnya mencapai 65 persen," kata Franky.

Dengan beroperasinya tiga pabrik baru tersebut, kebutuhan impor gandum untuk industri tepung terigu naik 8 persen dibandingkan 2015. Pada kuartal I 2016, Aptindo mencatat pertumbuhan industri terigu nasional mencapai 5 persen mengikuti GDP. Sedangkan pada tahun lalu pertumbuhannya hanya dua persen karena GDP-nya menurun. Menurut Franky, pertumbuhan industri tepung terigu kerap mengikuti pertumbuhan GDP nasional.

Baca juga: Konsumsi Masyarakat Saat Ramadhan Naik Hingga 30 Persen

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA