Senin, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 Januari 2020

Senin, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 Januari 2020

Kadin Nilai Pemerintah Harusnya Perbanyak Jumlah Sapi Hidup

Selasa 14 Jun 2016 17:04 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Daging Sapi

Daging Sapi

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Wakil Ketua Umum Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan Kadin Indonesia Juan Permata Adoe mengatakan, daging sapi memiliki tiga kategori dengan harga berbeda. Harga daging sapi selalu menjadi sorotan karena saat ini masyarakat belum banyak memahami kategori dan harga tersebut.

Menurut Juan, daging sapi dibagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama dinamakan primary cut seperti sirloin dan tenderloin yang dikenal paling mahal. Harga daging sapi primary cut antara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per kilogram. Kategori kedua yakni secondary cut dan kategori ini yang jadi rebutan di pasar karena harganya relatif lebih murah.

"Kategori ketiga adalah daging untuk industri biasanya bagian paha depan dan bagian-bagian daging yang umumnya terdiri 85 persen daging serta lemak. Daging ini biasanya untuk membuat sosis maupun bakso," ujar Juan di Jakarta, Selasa (14/6).

Juan menjelaskan, saat ini harga sapi hidup sebesar Rp 43 ribu per kilogram. Kemudian setelah dijadikan karkas, yaitu dibagi dua dan dibersihkan harganya menjadi Rp 86 ribu per kilogram. Lalu masuk ke rumah potong yang ongkos normalnya Rp 20 ribu, berarti harga daging sapi jadi Rp 106 ribu ditambah ongkos distribusi masuk pasar hingga Rp 115 ribu sampai Rp 120 ribu per kilogram di kategori secondary cut.

Juan menjelaskan bahwa, saat ini yang pemerintah impor adalah daging sapi bagian paha depan. Harga daging kategori ini akan menekan harga peternak sapi sehingga akan turun di pasaran. Namun, dengan tertekannya harga daging sapi bagian depan maka peternak akan terpaksa menaikkan harga daging sapi bagian paha belakang atau secondary cut.

"Inilah yang menjadi persoalan dari dulu, makin banyak diimpor makin menekan harga jadi melambung kenapa? Karena konsumen kita 85 persen suka dengan daging segar dan itu adanya hanya ada di sapi hidup," kata Juan.

Pemerintah seharusnya memikirkan cara untuk memperbanyak sapi, karena saat ini sapi di tingkat peternak terus berkurang. Juan menjelaskan, jika dihitung dengan statistik populasi sapi hanya 12 juta ekor. Dari 12 juta itu jika di rata-rata diseluruh Indonesia, maka setiap peternak hanya memiliki 2 ekor sapi.

"Dengan 2 ekor itu bagaimana bisa ketika musim Lebaran mereka suplai untuk Jakarta, ini yang menjadi persoalan setiap tahun," kata Juan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA