Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Peneliti: Orang Kota Besar Melampiaskan Marah di Jalanan

Senin 13 Jun 2016 16:31 WIB

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Teguh Firmansyah

marah

marah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rasa marah merupakan bagian dari sisi kemanusiaan seseorang. Namun demikian, marah yang tidak terkontrol justru mengandung makna sebaliknya dan biasa dianggap sebagai tanda 'ketidakmanusiawian' itu sendiri.  Tak jarang, orang yang marah lalu melontarkan kosakata binatang sebagai bentuk ekspresi makiannya.

Peneliti Merapi Cultural Institute (MCI), Gendhotwukir, dalam beberapa bulan terakhir intensif melakukan penelitian perilaku kemarahan. Dia menemukan mayoritas orang-orang kota besar  ternyata banyak meluapkan atau melampiaskan kemarahannya di jalan raya.

Mobilitas yang semakin padat membuat seseorang tidak bisa lepas dari aktivitas mengemudi atau mengendarai motor. Nah meredam emosi saat berkendara di jalan raya memang bukan perkara mudah. "Apakah ada dari kita yang belum pernah marah saat di jalan raya? Apalagi, di tengah kemacetan yang biasa menghinggapi dan menjadi ciri khas kota-kota besar di Indonesia saat ini," ujarnya, Senin (13/6).

Peneliti yang pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin, Jerman, ini menemukan ada faktor internal dan eksternal yang menyebabkan kemarahan seseorang gampang meledak di jalan raya. Secara internal, tentu saja berkaitan erat dengan kecerdasan emosional (EQ). Orang yang secara emosi sangat sensitif, kemarahannya biasanya gampang meledak. Apalagi, saat terstimulasi oleh faktor eksternal.

Gendhotwukir mengatakan, pada bulan suci Ramadan saat ini, meredam emosi menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang sensitif. Tipikal pribadi yang sensitif biasanya tidak sebatas melontarkan ancaman dengan kata-kata saat marah, tetapi bisa mengintimidasi bahkan sampai menantang adu jotos di jalan raya.

Baca juga, Adab Mengendalikan Amarah Menurut Islam.

Faktor eksternal, jelasnya, mengacu pada perilaku sesama pengemudi dan pengendara lain di jalan raya yang biasanya melakukan sesuatu yang tiba-tiba tanpa bisa diprediksi.

"Pada umumnya, perilaku ugal-ugalan dari pengemudi lain menjadi stimulus lahirnya kejengkalan dan kemarahan," kata dia. Apalagi, kecenderungan pengemudi mobil atau pengendara motor yang egois dan mau menang sendiri pun kini menjadi salah satu ciri dari manusia-manusia kota besar.

Di tengah kemacetan dan terik matahari, seseorang akan gampang terprovokasi untuk meluapkan emosinya. Misalkan saat tiba-tiba motor atau mobil di depan kita berbelok seenaknya atau tiba-tiba orang membuang puntung rokok atau sampah yang mengenai kita atau kendaraan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA