Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

 

Membalas Kurang Tidur Puasa, Bagaimana yang Benar?

Ahad 12 Jun 2016 05:29 WIB

Rep: Aprilia Safitri Ramdhani/ Red: Indira Rezkisari

Mengantuk/ilustrasi

Mengantuk/ilustrasi

Foto: Wihdan Hidayat/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Puasa membuat umat Muslim mengorbankan sebagian waktu tidurnya. Padahal tidak semua orang bisa membalas kurangnya waktu tidur lewat tidur siang, misalnya.

Spesialis Penyakit Dalam RSCM, Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MBB mengungkapkan bahwa pada prinsipnya jumlah tidur pada saat bulan puasa paling tidak adalah enam jam. Tidak berbeda jauh seperti bulan lain pada umumnya, mungkin hanya ada sedikit perubahan sirkadian irama hidup

"Ketika puasa kita akan bangun lebih awal untuk sahur, mungkin jam tidur juga lebih larut karena harus melaksanakan shalat tarawih. Hal ini menyebabkan kita menjadi mudah mengantuk pada siang hari," katanya di Jakarta.

Namun, menurutnya kondisi tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena secara umum tubuh kita secara otomatis akan menyesuaikan diri di satu minggu pertama. Selebihnya rasa kantuk yang diderita mungkin tidak akan separah saat awal puasa.

Jika berkesempatan tidur di siang hari, maka Ari menyarankan agar tidur hanya berdurasi maksimal satu jam. Sebab, apabila lebih dari satu jam justru malah akan membuat tubuh merasa lemas dan lelah akibat tidak adanya aktivitas yang memacu adrenalin seperti bergerak.

"Aktivitas perlu dilakukan agar hormon-hormon di dalam tubuh naik dan meningkat, sehingga rasa kantuk berkurang. Tidur selama 15 menit juga sebenarnya sudah cukup, asalkan lelap, berkualitas dan bisa mengembalikan stamina tubuh. Ini juga bisa dilakukan di sela jam istirahat di kantor," tambahnya.

Lalu sebenarnya, bagaimanakah kinerja tubuh kita pada saat puasa? Ari menjelaskan, pada prinsipnya ketika berpuasa lebih dari 12 jam tidak akan mengganggu kompisisi tubuh kita secara keseluruhan. Dengan syarat, saat sahur, berbuka dan sebelum tidur malam komposisi cairan dan makanan yang masuk ke  dalam tubuh tetap terjaga.

Caranya adalah dengan mengonsumsi air 8-10 gelas setiap hari serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur. Akan tetapi, yang menjadi masalah sesungguhnya adalah intensitas makan yang tidak teratur, terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak ketika berbuka puasa sehingga sudah tidak mau mengkonsumsi makanan pokok yang bergizi seimbang.

"Ini seringkali terjadi pada masyarakat di Indonesia, untuk itu kiranya hal ini penting untuk diperhatikan. Perhatikan makanan, minuman dan jumlah tidur setiap hari. Puasa sebenarnya sangat baik untuk tubuh, agar organ dalam tubuh seperti lambung, pankreas dan ginjal bisa berkurang masa kerjanya sehingga tubuh dapat beregenerasi dan melakukan perbaikan," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES