Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

MPP Percepat Peningkatan Akses Listrik di Sumatra

Kamis 02 Jun 2016 11:08 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Dirut PLN Sofyan Basir.

Dirut PLN Sofyan Basir.

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, PANGKAL PINANG -- Mobile Power Plant (MPP) dinilai bisa mempercepat rasio elektrifikasi di Sumatra. Direktur Utama PLN Sofyan Basir menyatakan bahwa sesuai dengan nawacita yang dituangkan dalam program 35 ribu MW, pemilihan pembangkit jenis MPP untuk percepatan rasio elektrifikasi di Regional Sumatera dirasa tepat mengingat waktu pembangunan pembangkit MPP yang relatif singkat.

Pembangkit ini juga menggunakan gas sebagai bahan bakar sehingga lebih ramah lingkungan. Hal itu disampaikan Sofyan usai persemian enam MPP dengan kapasitas 350 MW di Pangkal Pinang. Keenam pembangkit ini ditargetkan akan beroperasi akhir tahun ini.

“PLN berkonsentrasi penuh untuk menjalankan amanah pemerintahan Jokowi-JK melalui Program 35 ribu MW. Target kami untuk Regional Sumatera pada 2016 ini akan men-supply daya pasok hingga 6.036 MW. Untuk itu, diharapkan adanya cadangan daya untuk Sumatera, yakni sebesar 1.615 MW. Sementara untuk Lampung, target kami untuk daya pasok sebesar 1.068 MW, dan diharapkan adanya cadangan daya hingga 172 MW,” ujar Sofyan.

Enam pembangkit MPP berkapasitas 350 MW ini akan disebar ke seluruh Regional Sumatera. Untuk Wilayah Bangka dan Belitung, bertambahnya tiga MPP dengan total kapasitas 75 MW akan memperkuat sistem kelistrikan Bangka Belitung. Adapun daya mampu pada sistem kelistrikan Bangka saat ini adalah 142 MW, sedangkan beban puncak rata-ratanya sebesar 130 MW. Sementara itu, daya mampu Belitung saat ini adalah 42 MW dengan beban puncak rata-rata 36 MW.

Bangka Belitung Salah Satu Prioritas Infrastruktur Listrik

Bertambahnya kapasitas pembangkit ini akan membuat pasokan listrik di Bangka dan Belitung semakin handal. Jika ada pemeliharaan terhadap salah satu pembangkit, pasokan listrik masih mencukupi.

Sistem kelistrikan Sumatera pada 2016 terdiri dari sistem Sumatera Bagian Utara yang melayani Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara; sub sistem Sumatera yang melayani Provinsi Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung; sistem kelistrikan Bangka Belitung dan sistem kelistrikan Kepulauan Riau serta sistem isolated seperti Nias, Mentawai, dan pulau-pulau kecil lainnya.

Sistem Sumatera Bagian Utara memiliki beban puncak saat ini sebesar 2.090 MW dan daya mampu sebesar 2.327 MW dengan cadangan daya 237 MW atau sekitar 11 persen. Sementara sistem Sumatera Bagian Selatan dan Tengah, beban puncaknya adalah 2.041 MW dan daya mampu pembangkit 2.827 MW dengan cadangan daya 426 MW atau sekitar 15 persen.

Pada 2017 diharapkan sistem Sumatera sudah terhubung dengan jaringan 275 kilo-Volt (kV) dan dengan mulai beroperasinya pembangkit-pembangkit baru diprediksi cadangan listrik bisa mencapai 32 persen. Selanjutnya, diharapkan dengan penambahan 11 ribu MW pembangkit baru program 35 ribu MW serta jaringan transmisi 500 kV yang menghubungkan Sumatera Selatan dan Sumatera Utara sampai Aceh sepanjang 1.300 kilometer (km) yang diharapkan bisa selesai pada 2019.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA