Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Regenerasi Penyu Dinilai Terancam karena Faktor Alami

Kamis 26 May 2016 02:10 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Tukik atau anak penyu menuju lautan di tempat pelestarian penyu Pondok Jaga Tegal Sereh di Pantai Sindangkerta, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (25/3). (Republika/Edi Yusuf)

Tukik atau anak penyu menuju lautan di tempat pelestarian penyu Pondok Jaga Tegal Sereh di Pantai Sindangkerta, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (25/3). (Republika/Edi Yusuf)

REPUBLIKA.CO.ID, TRENGGALEK -- Aktivis lingkungan di area konservasi penyu laut Taman Kili-kili, Trenggalek, Jawa Timur mengkhawatirkan faktor alami regenerasi penyu dalam jangka panjang karena mayoritas telur penyu yang menetas secara alami menghasilkan tukik betina.

"Hampir 95 persen telur penyu yang menetas menghasilkan tukik berjenis kelamin betina. Sangat jarang menetas tukik jantan," kata penggiat konservasi penyu di Pantai Kili-Kili, Trenggalek Eko Margono di Trenggalek, Rabu (25/5).

Menurut Eko, kesimpulan itu mengacu hasil penangkaran penyu yang mereka lakukan di kawasan Pantai Kili-kili sejak pertengahan 2011.

Dari sekitar 1.000 telur yang disimpan di tempat penangkaran alami areal pesisir Pantai Kili-kili, misalnya, Eko menyebut dari 90-98 persen yang berhasil menetas hanya beberapa ekor tukik yang berjenis jantan. "Bahkan tak jarang telur penyu semua menetas menjadi tukik betina," ujarnya.

Fakta genetis itu diakui Eko cukup mengkhawatirkan, terutama dalam upaya konservasi penyu yang dilakukan komunitas nelayan yang tergabung dalam kelompok pengawas masyarakat (pokwasmas) Pantai Kili-kili atau Taman Kili-kili.

Kendati setiap tahun mereka berhasil menangkarkan ribuan ekor tukik lalu melepasliarkan ke laut, kata dia, di masa mendatang penyu-penyu itu tidak bisa menghasilkan keturunan karena ketidakseimbangan jumlah penyu jantan dan betina.

"Telur penyu agar bisa menetas menjadi tukik jantan biasanya membutuhkan suhu lebih rendah dibanding telur yang menghasilkan tukik betina, yaitu di kisaran 31 derajat celcius dengan lama proses penetasan sekitar 60-61 hari," ujarnya.

Masalahnya, lanjut Eko, suhu tanah pasir di kawasan pesisir Pantai Kili-kili berkisar 34-36 derajat celcius dan menjadi temperatur ideal penetasan telur penyu menjadi tukik betina. "Kami sudah mencoba menggunakan alat rekayasa semacam penetasan hasil rancangan tim periset dari Universitas Brawijaya Malang. Tapi ini masih uji coba dan belum optimal," kata Eko.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA