Selasa, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 Januari 2020

Selasa, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 Januari 2020

Tahu Beda Batik Cetak dan Tulis? Ini Cara Ketahuinya

Senin 02 Mei 2016 16:06 WIB

Rep: C27/ Red: Indira Rezkisari

Seorang pengrajin batik menunjukkan kain yang telah ditorehkan lilin (malam) di salah satu rumah di Centra Batik Tulis Trusmi, Desa Trusmi Wetan, Plered, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/4). (Antara/Widodo S. Jusuf)

Seorang pengrajin batik menunjukkan kain yang telah ditorehkan lilin (malam) di salah satu rumah di Centra Batik Tulis Trusmi, Desa Trusmi Wetan, Plered, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/4). (Antara/Widodo S. Jusuf)

Foto: Antara/ Widodo S. Jusuf

REPUBLIKA.CO.ID, Batik merupakan busana khas Indonesia yang sudah diakui dunia. Hampir di setiap kesempatan batik menjadi alternatif pakaian yang bisa menunjang penampilan lebih menawan.

Dengan naiknya minat masyarakat pada batik, maka perlu pula didukung dengan produksi yang besar. Fenomena ini akhirnya memunculkan batik hasil sablon atau print, tidak lagi hasil kemampuan tangan. Hanya saja, terkadang ada saja beberapa pihak memanfaatkan kondisi kurangnya produksi batik tulis. Sehingga marak ditemukan batik-batik yang dicetak tapi diklaim sebagai batik tulis.

"Banyak hal yang bisa dilihat untuk membedakan batik tulis dan print, contoh saja jenis kainnya," kata pengrajin batik Pekalongan Mustar Sidiq.

Kain yang digunakan untuk membuat batik tulis dengan batik cetak sangat berbeda. Dengan cara meraba pun akan sangat terasa perbedaan kedua jenis kain yang digunakan.Jika batik cetak cenderung menggunakan kain murah yang kasar, sehingga ketika menyentuh kulit akan terasa kurang nyaman. Sedangkan batik tulis sering menggunakan kain yang berkualitas.

Batik cetak pun akan menghasilkan warna yang beda antara dua sisi kain. Sering kali warna yang dihasilkan tidak tembus dan pada bagian warna putih sering blur atau tidak jelas. Berbeda dengan batik tulis yang memiliki konsentrasi warna yang sama pada kedua sisi. Untuk garis putih pada pola pun bening dan terlihat jelas pada batik tulis.

"Sekarang juga musim batik caplis atau cap tulis yang diaku jadi batik tulis, padahal caplis ya caplis, bukan batik tulisan seluruhnya," kata Sidiq.

Untuk mengakali penilaian, sering kali pedangan akan menunjukkan bagian-bagian yang ditulis oleh malam langsung. Padahal bagian lainnya menggunakan proses cetak, sehingga ketelitian dalam melihat dan merasakan perlu lebih ekstra.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA