Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

Hadapi Persaingan Global, Perlu Penguatan Strategi Kebudayaan

Ahad 01 May 2016 08:30 WIB

Red: M Akbar

Menari merupakan salah satu budaya dan tradisi yang mengakar di masyarakat Bali (ilustrasi).

Menari merupakan salah satu budaya dan tradisi yang mengakar di masyarakat Bali (ilustrasi).

Foto: ANTARA/Pey Hardi Subiantoro

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia membutuhkan penguatan strategi kebudayaan untuk menghadapi persaingan global. Saat ini daya saing kompetitif global yang dimiliki Indonesia masih sangat rendah.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor Universitas Indonesia, Prof Dr Bambang Wibawarta, saat berbicara pada seri diskusi panel bertema "Tantangan Masa Depan" yang digelar oleh Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) di Jakarta, Sabtu (30/4). Dalam diskusi tersebut turut berbicara dosen Lemhanas, Laksda TNI Asc Prof Dr A Yani Antariksa.

Bambang menjelaskan saat ini Human Capital Index Indonesia di ASEAN turun menjadi 69 pada tahun 2015 dari sebelumnya ranking 53 di tahun 2013. Demikian pula dengan Global Competitiveness Index Ranking Indonesia yang melorot pada periode 2015-2016 menjadi 37 dari sebelumnya ranking 34 pada periode 2014-2015.

''Kenyataan ini menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan daya saing dan akan lebih sulit menghadapi globalisasi. Untuk itu diperlukan strategi kebudayaan untuk dijadikan benteng menghadapi segala tantangan bangsa yang ada,'' katanya.

Dia menjelaskan strategi kebudayaan yang dimaksud di sini dapat berarti ganda. Pertama, strategi pengembangan dan pelestarian kebudayaan. Kedua, strategi sebagai pendekatan untuk menyelesaikan masalah sosial, ekonomi, politik, menghadapi proxy war dan neocortical war yaitu cara perang tanpa penggunaan kekerasan. ''Strategi kebudayaan inilah yang harus disusun ulang,'' kata ujarnya.

Sementara itu Yani mengungkapkan persoalan sosial budaya sekarang ini menduduki Indeks Ketahanan Nasional paling rendah. Rendahnya nilai sosial budaya di Indonesia, kata dia, menyebabkan terjadi kurangnya kepatuhan terhadap pranata sosial dan hukum. Selanjutnya tercerminnya keteladanan yang kurang dari pemimpin, penegakan hukum belum maksimal serta generasi muda kurang tertarik sejarah dan ideologi.

Terkait persoalan tersebut, Yani menilai perlu dimunculkannya wacana pembangunan nasionalisme baru, memantapkan wawasan kebangsaan, serta penguatan pelayanan sosial. Wacana lainnya yang perlu didorong untuk semakin kuat dan tumbuh, kata dia, bagaimana merawat keragaman masyarakat dan kebudayaan serta penguatan kualitas dan kompetensi pemuda.

''Semua ini diperlukan agar menjadi driver dalam membangun kemandirian bangsa dan sebagai antisipasi terhadap pengaruh globalisasi,'' kata Yani.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA