Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Perlukah Berutang untuk Menikah?

Jumat 29 Apr 2016 06:25 WIB

Red: M Akbar

Mu Kim Ni aka Murniati Mukhlisin

Mu Kim Ni aka Murniati Mukhlisin

Foto: Agung/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr Murniati Mukhlisin, M.Acc (Konsultan Sakinah Finance, Colchester - Inggris)
 
Sebuah iklan beredar di media sosial menawarkan produk kredit pesta pernikahan. Perlukah sampai demikian berutang demi meriahnya sebuah pesta yang konon dipercaya meningkatkan martabat orang tua, kedua mempelai, dan sanak keluarga?

Menikah adalah satu cara untuk mengikut sunah Rasulullah SAW, tetapi bukan hanya tata cara menikah saja yang patut kita ikuti. Sebaiknya, hal-hal seputar pernikahan pun kita ikuti secara keseluruhan (kafah).

Persiapan pernikahan
Sebagian masyarakat Muslim di Indonesia menyiapkan pernikahan mulai dari mahar, jenis kartu undangan, acara tunangan (khitbah), hantaran lamaran, pesta pernikahan termasuk sewa gedung dan baju pengantin serta paket foto, tanda mata untuk tamu, baju seragam keluarga, bulan madu, rumah yang akan ditinggali, dan banyak hal lainnya.

Biasanya yang stres adalah antara orang tua dan keluarga besar, calon mertua dan keluarga besar, serta kedua mempelai sendiri. Adapun keinginan untuk memeriahkan acara biasanya datang dari orang tua atau anak atau keduanya.

Pengantin baru, Manis dan Bagus, berbagi cerita. "Sebelum nikah, kami sih maunya pesta sederhana aja. Tapi ya gitu deh, ortu maunya yang meriah. Biayanya ditanggung separuh-separuh antara dua keluarga."

Mereka mengatakan bahwa biaya pernikahannya ketika mengundang 1.000 tamu termasuk keluarga dekat menghabiskan biaya hampir Rp 500 juta dengan perincian kartu undangan dan ongkos kirim Rp 20 juta, mas kawin (mahar) Rp 75 juta, paket pesta pernikahan Rp 300 juta, tanda mata tamu Rp 20 juta, baju seragam keluarga Rp 25 juta, dan paket bulan madu Rp 60 juta.

Manis melanjutkan bahwa ada juga dana yang masuk dari amplop yang dibawa tamu, sekitar Rp 200 juta, kado-kado serta bunga ucapan. Sebagian kado tidak terlalu digunakan, bunga ucapan apalagi, biasanya diambil lagi oleh pengirim bunga setelah pesta usai. Sedihnya, pesta berakhir dengan utang 100 juta!

Ketika Rasulullah SAW menikahkah putrinya
Fatimah az-Zahra RA adalah putri keempat dari istri Rasulullah, Khadijah binti Khuwaliid. "Marhaban wa sahlan," itulah ucapan Rasulullah SAW kepada Ali bin Abu Thalib RA ketika ia datang meminang Fatimah yang bermakna bahwa Rasulullah SAW menerima pinangannya. Maka menikahlah keduanya.

Pernikahannya sangat sederhana bertempat di rumah yang sederhana, tidak ada musik dan hamburan kekayaan. Perabot rumahnya pun hanya ada kain beludru, bantal kulit berisi rumput kering, penggilingan gandum, alat minum, dan dua buah wadah. Mahar yang diminta tidak lebih dari 12 uqiyah (HR Darimi no 2103, Ibnu Majah no 1877), atau sekitar 500 dirham, Rp 35 juta nilai sekarang.

Itulah pernikahan Fatimah az-Zahra RA, yang disebut sebagai Ummu Abiha (ibu dari ayahnya) karena selalu menghibur Rasulullah SAW di tengah penderitaannya dalam mensyiarkan Islam.

Itulah pernikahan Fatimah Az-Zahra RA, anak satu-satunya Rasulullah SAW yang disebut sebagai salah satu dari empat wanita terbaik di dunia yang namanya dihafal setelah Aisyah, Maryam, dan Khadijah.

Itulah pernikahan Fatimah Az-Zahra RA, yang selalu dipuji, dicium tangan dan wajahnya kala berjumpa dengan ayahnya, Rasulullah SAW.

Jadi perlukah berutang?
Bagi yang ingin menikah, hendaknya mengkaji lagi pesan-pesan Rasulullah SAW bahwa pernikahan adalah urusan mudah, jangan menyusahkan siapa pun juga, sehingga akan dapat mengundang keberkahan.
 
"Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah" (HR Abu Daud no 1808) dan "Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya" (HR Ahmad  no 24595).

Rasulullah SAW pernah menikahkan seorang wanita dengan seorang lelaki dengan mahar hafalan Alquran karena sang lelaki hanya punya sehelai sarung, tidak mampu mencari walau sebuah cincin besi (lihat HR Bukhari no 5422, HR Nasa’i no 3287, HR Darimi no 2104).

Menyiarkan kabar pernikahan dan berbagi kegembiraan dengan sanak keluarga dan tetangga serta para teman dan sahabat adalah suatu yang dianjurkan, tetapi jangan sampai memaksakan diri hingga berutang.

Anggaran sederhana dapat diupayakan, misalnya dengan mengirim undangan digital yang didesain cantik, menggunakan rumah sebagai ajang menyambut tamu, dan masak menggunakan katering sederhana.

Karena biaya makanan adalah porsi terbesar, ada baiknya adat kampung dilestarikan, yaitu biaya pesta makan ditanggung bersama. Seperti yang diceritakan oleh sahabat kecil penulis, Fery Dubara, bahwa tradisi membawa ayam dan beras masih ada di Baturaja, Sumatra Selatan, yang jangan sampai diganti dengan tradisi modern yang serbapraktis dan materialistis katanya.

Kesimpulannya, menikah dengan cara memaksakan diri seperti berutang adalah tidak mengikuti sunah Rasulullah SAW. Banyak hal yang mudarat dibandingkan manfaatnya, belum lagi masalah riba karena pinjamannya. 

Mungkin sementara pengantin dan keluarganya disanjung khalayak ramai, sementara naik martabat di hadapan tamu, tetapi hina di mata Allah karena ternyata orang yang bermartabat dan mulia adalah bukan dengan kekayaannya, tapi yang mulia adalah karena ketakwaannya (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Selain tentang utang, banyak kisah makanan pesta yang tidak habis kemudian terbuang begitu saja (mubazir), serta menganjurkan gaya tamu makan sambil berdiri. Itukah takwa dan mengikuti sunah Rasulullah SAW? Wallahu a'lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA