Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Meresapi Makna Rumah Semut di Merauke

Kamis 21 Apr 2016 15:50 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Winda Destiana Putri

Sebuah rumah atau sarang semut.

Sebuah rumah atau sarang semut.

Foto: www.kaheel7.com/id

REPUBLIKA.CO.ID, Semut, makhluk kecil yang kadangkala tidak terlalu diberikan tempat khusus bagi sebagian masyarakat di Indonesia.

Keberadaannya terkadang tidak dianggap luar biasa dalam kehidupan. Namun hal-hal tersebut nampaknya tidak berlaku di Kabupaten Merauke, Papua.

Saat menginjakkan kaki di bandara Mopah akan terlihat gundukan tanah sekitar satu meter merah di depan ruangan VIP di bandara. Gundukan tersebut biasa disebut oleh masyarakat Merauke sebagai rumah semut. Rumah semut ini menjadi salah satu ikon unik dari wilayah yang luasnya mencapai 40.071 kilometer ini.

Bentuk rumah semut di sini berbeda dan unik dibandingkan rumah semut yang selama ini dikenal masyarakat pada umumnya. Bentuknya berupa gundukan tanah yang tingginya bisa mencapai tiga hingga empat meter. Jumlahnya pun tidak hanya satu atau dua gundukan tapi ratusan di berbagai sudut wilayah Merauke.

"Jumlah gundukan di sini tidak terhitung angkanya," kata Mantan Bupati Merauke John Gluba Gebze di Bandara Mopah Meruake kepada wartawan.

Berdasarkan pengamatan Republika, rumah semut ini memang tidak terlihat signifikan di pusat kota. Pemandangan unik ini akan nampak jelas ketika berada di Taman Nasional Wasur. Di sepanjang jalan taman tersebut, masyarakat yang melewati ini tidak hanya disajikan pemandangan hijau dan lebatnya pohon serta sungai kecil tapi rumah semut juga.

Beberapa rumah semut terlihat berdiri tegak di pinggiran jalan dengan tinggi yang bermacam-macam. Jarak antara Bandara Mopah dan Taman Nasional Wasur tidak terlalu jauh hanya memakan waktu 30 menit dengan berkendaraan mobil.

John mengatakan, sampai saat ini memang belum dilakukan riset rumah semut tersebut. Menjulangnya rumah semut tentu menjadi rasa penasaran tersendiri dari segi ilmiah. Apalagi rumah semut ini, kata dia, hanya berada di tiga wilayah di seluruh dunia, yakni Merauke, Australia dan Afrika.

Menurut John, rumah semut ini terbuat dari rerumputan kering, tanah dan air liur semut. Akan tetapi, dia mengaku selama hidup tidak pernah melihat semut yang berkeliaran di gundukan tersebut.

"Tapi berdasarkan cerita masyarakat yang melihatnya, bentuk semutnya tidak besar seperti semut api dan tidak terlalu kecil pula," kata John. Namun terdapat informasi yang mengatakan bentuknya seperti rayap.

Meski tidak diketahui seperti apa bentuk semutnya, John mengungkapkan, terdapat filosofi hidup yang menginspirasi dari rumah semut. Dengan demikian, rumah semut atau yang biasa disebut ‘musamus’ dalam bahasa setempat ini dijadikan ikon Merauke. Bahkan, nama Musamus ikut disematkan pula pada universitas negeri musamus di Merauke.

Semut itu kecil tapi dengan bekerjasama, kata John, mereka berhasil membangun gundukan yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya.

"Dari fenomena ini saya terinspirasi untuk menjadikan slogan Merauke, yakni jangan tanya kerja tapi lihat hasilnya," ungkap dia. Seperti halnya semut tersebut yang tidak terlihat keberadaanya tapi berhasil membuat bangunan besar bak seorang arsitek.

Meski terlihat hanya sekedar gundukan tanah,  John menegaskan rumah semut tidak mudah roboh. Kekokohan rumah semut ini tidak mudah dihancurkan baik oleh binatang maupun manusia sekalipun.

"Dan itulah hasil kerja keras mereka yang tidak pernah diperlihatkan tapi memiliki hasil yang luar biasa," tegas John. Karena itu, sangat wajar masyarakat dan pemerintah Merauke terinspirasi atas kehidupan mereka.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA