Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Pemikiran Pendidikan Kartini

Selasa 19 Apr 2016 13:00 WIB

Red:

Banyak yang menyebut Kartini sebagai tokoh gerakan emansipasi perempuan. Pemikiran dalam bukunya berjudul Door Duisternis Tot Lieht atau Habis Gelap Terbitlah Terang menggambarkan keinginannya memperjuangkan kaum perempuan Jawa saat itu agar mendapatkan pendidikan layak.

Pemikiran Kartini sebagian besar dipengaruhi realitas sosial di sekelilingnya dan interaksi gagasan dengan rekan-rekannya di Belanda. Tapi, sifat progresif yang diwarisi dari ayahnya, Sosroningrat, bahwa pendidikan sebagai instrumen penting kemajuan bangsa dan ilmu pengetahuan sebagai pintu kebahagiaan individu dan masyarakat, telah membekas mendalam pada dirinya.

Ayahnya menyekolahkan semua anak-anaknya tanpa kecuali ke sekolah Belanda, Europese Lagere School. Akses dan fasilitas pendidikan itulah yang semakin membukanya bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan begitu penting bagi kemajuan bangsanya, terutama kaum perempuan.

Kegelisahannya terhadap situasi sosial, adat, dan kultur yang membelenggu kaum bumiputra untuk mendapatkan pendidikan layak ia ungkapkan dalam surat-surat yang ia kirim kepada sahabatnya di Belanda, Nyonya Abendanon. Dalam salah satu suratnya, ia utarakan tentang pendidikan sebagai kewajiban yang mulia dan suci.

Kartini berpandangan, merupakan kejahatan apabila dirinya sebagai pendidik tidak memiliki kecakapan penuh sebagai pendidik. Maksudnya, seorang pendidik yang baik seharusnya berintrospeksi diri terlebih dahulu apakah dirinya memiliki kemampuan sebagai pendidik. Kemampuan pendidik tidak hanya profesi, tetapi juga kecakapan moral spiritual.

Jika seorang pendidik memiliki kemampuan kognitif, sekaligus kecakapan spiritual, akan menghasilkan peserta didik yang cerdas dalam pengetahuan dan saleh dalam perbuatan. Dalam bahasa Kartini, tujuan pendidikan tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menghasilkan pendidikan budi dan jiwa.

Kartini berharap, manusia bumiputra yang diinginkan dalam proses pendidikan menjadi individu yang memiliki kecerdasan akal dan keluhuran budi pekerti. Dalam bahasa konstitusi kita yang tertulis di Pasal 31 ayat 3 UUD Negara RI tahun 1945 dinyatakan, "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang."

Ini berarti, pemikiran pendidikan Kartini telah melampaui zamannya. Dalam usia 12 tahun, Kartini muda sudah mampu memformulasikan gagasan pendidikan secara filosofis dan sosiologis. Ketika kaumnya sedang terimpit oleh adat yang kolot dan bangsanya terbelenggu rantai kebodohan, ia tuangkan kegelisahannya dalam lembaran surat kepada sahabatnya di Belanda.

Dalam bahasa yang kemudian disederhanakan Abendanon sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini seakan-akan mencoba mengubah alam kegelapan yang mengitari bangsanya, dikikis habis melalui pendidikan. Melalui pendidikan, bangsanya akan menuju ke zaman terang benderang.

Sebagai penganut Islam, Kartini seakan menjawab seruan Alquran dalam surah al-Baqarah ayat 257. Buku itu sepertinya usaha Kartini untuk menerjemahkan wahyu ilahiah terhadap pemaknaan kegelapan sebagai kondisi kekufuran menuju kepada cahaya terang sebagai manifestasi bentuk keimanannya kepada Allah.

Kartini juga meyakini, sebagaimana pernah diungkapkan ayahnya, pendidikan (ilmu pengetahuan) akan membawanya menuju kebahagiaan hidup dan kesejahteraan. Paradigma berpikir ini selaras dengan Alquran surah al-Mujadalah ayat 11 bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Pembacaan realitas sosial Kartini terhadap gejala di sekitarnya juga dapat kita pandang sebagai upayanya membumikan wahyu ilahiah Alquran surah al-Alaq ayat 1. Dalam tafsir Al-Misbah terhadap pemaknaan ayat ini bahwa Islam memerintahkan kita belajar membaca dan menulis serta mempelajari ilmu pengetahuan demi meningkatkan derajat sebagai makhluk Allah yang mulia dan dianjurkan sanggup menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang telah Allah limpahkan kepada kita.

Konstruksi berpikir Kartini ini juga mirip dengan gagasan pendidikan Muhammad Iqbal (1877-1938), intelektual sekaligus penyair Muslim. Dalam bukunya The Reconstruction of Religous Tought in Islam (1971), Iqbal membuat rumusan yang memadukan pendidikan berbasis al-fikr dan zikir.

Pemikiran ini memadukan aspek kognitif dan afektif atau dalam bahasa Kartini, kecerdasan akal, budi, dan jiwa. Pemikiran Kartini ternyata menembus batas geografis dan gender sekalipun. Oleh karenanya, layak jika ia pun harus didaulat sebagai tokoh pendidikan bangsa.

Kontekstualiasi gagasan pendidikan Kartini dalam menjawab realitas dunia pendidikan saat ini tentu bisa menjadi salah satu refleksi dan autokritik. Jika ia masih hidup, Kartini mungkin mengernyitkan dahi jika melihat realitas dunia pendidikan kita yang lebih melihat pada sisi kognitif semata daripada aspek pendidikan budi pekerti.

Ia jelas tak menginginkan jika peserta didik yang dihasilkan dari proses pendidikan hanya menjadi individu yang berpikir pragmatis, mengejar target kelulusan. Kartini tentu tidak menginginkan model dan sistem pendidikan yang memberi ruang munculnya gejala pragmatisme yang kian meluas di dunia pendidikan kita.

Masih munculnya kasus kecurangan dalam penyelenggaraan UN, program sertifikasi pendidik yang lebih banyak bersifat formalitas demi mendapatkan tunjangan profesi, sekolah dan kampus berlomba-lomba menarik pungutan adalah contoh nyata perilaku pragmatis. Dan, semuanya hanya untuk mengejar sisi materi.

Pragmatisme hanyalah salah satu gambaran dari wajah anak negeri hasil sistem pendidikan yang hanya menekankan aspek lahiriah dan menomorduakan spiritual. Kita tentu tak menginginkan terkungkung dan terbelenggu oleh tujuan pragmatis jangka pendek.

Pendidikan bukanlah untuk mengukur prestasi peserta didik dalam bentuk angka. Pendidikan seharusnya lebih ditujukan untuk pembentukan watak dan jati diri bangsa yang agung yang dipenuhi individu berperilaku akhlak mulia. Seperti kata Kartini, pendidikan tidak hanya menghasilkan kecerdasan akal, tetapi budi dan jiwa. 

Agus Widiarto
Direktur Center For Historical and Policy Studies (CHIPS)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA