Senin, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 Januari 2020

Senin, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 Januari 2020

Pemerintah Pertimbangkan Stabilisasi Harga BBM dan LPG

Jumat 25 Mar 2016 04:16 WIB

Red: Julkifli Marbun

Darmin Nasution (kiri)

Darmin Nasution (kiri)

Foto: Antara/Yudhi Mahatma

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –- Kementerian bidang perekonomian menggelar rapat koordinasi di kantor Kementrian Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (24/3). Rapat koordinasi tersebut dihadiri oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M. Soemarno, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo dan Direktur Utama PT. Pertamina Dwi Soetjipto.
 
Rapat tersebut digelar untuk meninjau harga BBM, harga LPG dan inisiasi cadangan minyak dan gas strategis “1 April waktunya meninjau harga BBM dan LPG juga membutuhkan peninjauan. Selain itu, apakah kita perlu memupuk cadangan strategi,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said.
 
Keputusan harga yang baru, kata Sudirman, akan ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri ESDM. Adapun harga yang baru akan berlaku mulai 1 April hingga 30 Juni 2016. Hal ini konsisten dengan penentuan harga pada periode sebelumnya, yaitu periode tiga bulanan.
 
Pembahasan harga BBM ini juga terkait dengan harga penilaian produk untuk perdagangan minyak di kawasan Asia atau Mean of Platts Singapore (MOPS) yang cenderung menurun dalam tiga bulan terakhir. Sebagai gambaran, kendati saat ini harga MOPS sedang turun, namun proyeksi harga solar hingga tahun 2019 akan naik pelan-pelan. Sementara untuk premium, menurut proyeksi pemerintah, titik terendah sudah terjadi di bulan Februari dan saat ini harganya mulai merambat naik juga.
 
“Yang pasti, pemerintah ingin menjaga stabilitas harga BBM agar tidak terjadi gejolak harga yang dapat merugikan masyarakat,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.
 
Sedangkan untuk harga LPG, lanjut Darmin, pemerintah akan melakukan peninjauan kembali untuk harga eceran tertinggi (HET) LPG 3kg. Pertimbangannya, formula perhitungan yang baru memperhitungkan biaya distribusi dan biaya impor yang meningkat. Di sisi lain, nilai tukar rupiah menguat sehingga dapat menutup lonjakan kenaikan harga.
 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA