Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Pendidikan 80 Juta Anak Terganggu karena Perang dan Bencana

Kamis 17 Mar 2016 15:18 WIB

Red: Ani Nursalikah

 Anak-anak korban konflik perang tengah mendapatkan perawatan medis di kota Dadaab, Kenya.

Anak-anak korban konflik perang tengah mendapatkan perawatan medis di kota Dadaab, Kenya.

Foto: Schalk van Zuydam/AP

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sekitar 80 juta anak yang tinggal di wilayah yang dilanda peperangan atau bencana alam pendidikannya terganggu pada 2015. Hal ini menyebabkan mereka rawan menjadi pekerja anak, korban perdagangan manusia dan ekstremisme, menurut para pakar, Kamis (17/3).

Banyak permintaan akan bantuan kemanusiaan mengabaikan pendidikan pada 2015, dan permintaan bantuan pendidikan yang terpenuhi baru sepertiganya saja. Secara keseluruhan, pendidikan mendapatkan 1,4 persen dari seluruh dana kemanusiaan, Lembaga amal Theirworld Inggris mengatakan dalam sebuah laporan.

"Analisa yang baru, (mengonfirmasi) 2015 merupakan tahun yang sangat buruk bagi anak-anak yang pendidikannya terganggu dikarenakan peperangan dan bencana alam," ujar Susan Nicolai, kepala proses pengembangan dari kelompok penasihat Institut Pengembangan Luar Negeri yang bermarkas di london.

"Para pemimpin dunia perlu untuk segera menjamin bahwa tidak akan ada tanggap darurat kemanusiaan yang tidak memandang pendidikan sebagai hal yang kritis di masa depan," Nicolai mengatakan, hasil penelitian institutnya menunjukkan jumlah 80 juta anak terkait dalam laporannya.

"Tanpa adanya hal ini kami akan terus melihat hasil krisis jangka pendek dalam bencana multigenerasi," dia menambahkan.

Sekolah-sekolah membantu para generasi baru untuk mengembangkan kemampuan yang mereka butuhkan untuk membangun hidup dan negara mereka, dan juga memberikan tempat yang aman untuk belajar dan bermain yang hasilnya akan mampu membantu anak-anak mengatasi trauma yang mereka miliki setelah terjadinya krisis.

Pendidikan pada saat keadaan darurat juga akan melindungi anak-anak dari eksploitasi dan kemiskinan. "Anak-anak yang putus sekolah memiliki risiko yang lebih besar untuk dipengaruhi atau dieksploitasi oleh para ekstremis, pedagang manusia dan para penjahat," mereka menambahkan.

Theirworld didirikan oleh Sarah Brown, istri dari mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, dan meluncurkan sebuah kampanye pendidikan global pada 2013.

Meskipun jumlah anak yang terkena dampak krisis semakin meningkat, bantuan kemanusiaan untuk pendidikan menurun hampir setengahnya pada 2010, menjadikan dana tahunan turun menjadi 9 miliar dolar Amerika. Laporan itu mencatat pendanaan terhadap 28 negara yang mengalami keadaan darurat, termasuk yang terkena bencana alam, konflik atau krisis kesehatan seperti menjangkitnya virus ebola.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA