Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Hadapi Islamofobia, Muslimah Amerika Berlatih Bela Diri

Kamis 17 Mar 2016 08:06 WIB

Rep: MGROL57/ Red: Agung Sasongko

Muslimah Amerika Serikat (ilustrasi)

Muslimah Amerika Serikat (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTO -- Khawatir dengan meningkatnya sentimen anti-Muslim, para Muslimah di Washington, Amerika Serikat, membekali diri dengan kemampuan pertahanan. Dilansir dari Reuters, Sabtu (12/3), sekitar 20 wanita Muslim berhijab menjadi peserta kelas bela diri yang diampu oleh aktivis Muslimah keturunan Mesir, Rana Abdelhamid. Tak sembarangan mengajar ilmu bela diri, Abdelhamid berkualifikasi sebagai pemegang sabuk hitam di aliran karate shotokan.

Workshop bela diri oleh Abdelhamid tersebut tidak hanya dibuka di Washington, tetapi cabang-cabang kelas itu tersebar di sekitar Amerika. Dia merasa perlu adanya kelas pelajaran pertahanan diri bagi wanita Muslim karena ancaman terhadap mereka pun meningkat.

Rasa waswas semakin menghantui, terutama setelah kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump, terus menyulut Islamofobia dengan ujaran-ujaran bernada anti-Muslim. "Anda dapat diserang di mana saja. Anda bisa didorong secara mendadak di tangga stasiun bawah tanah," ujar Abdelhamid. Dia menambahkan, hijab dan pakaian khas Muslim lainnya kadang menjadikan wanita Muslim sebagai sasaran.

Salah seorang peserta kelas, Kristin Garrity Sekerci, menyatakan keinginannya untuk mampu melindungi diri sendiri. Sekerci menegaskan, ia tak ingin pasrah saat menghadapi serangan tersebut. "Anda kelihatan berbeda. Ini tidak adil, tapi inilah kenyataannya. Anda harus membekali diri untuk dapat menghadapi hal tersebut," ujar wanita mualaf yang saat ini bekerja dengan gerakan pemantau Islamofobia di Universitas Georgetown itu.

Kelompok advokasi Muslim, seperti Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR), menyatakan kejahatan anti-Muslim di Amerika Serikat meningkat tiga kali lipat. Hal itu tampak jelas sejak serangan kelompok militan ISIS di Paris serta penembakan oleh ekstremis Muslim di San Bernardino. Sebanyak 80 persen korban dari hate crime tersebut, berdasarkan catatan CAIR, adalah wanita.

"Saat ini benar-benar ada kebutuhan bagi wanita Muslim untuk mampu mempertahankan diri mereka sendiri di tengah masyarakat," ujar juru bicara CAIR Ibrahim Hooper.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA