Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Khoirul Anwar, 4G dan Tantangan Kompetensi Aktivis KAMMI

Rabu 09 Mar 2016 10:48 WIB

Red: M Akbar

Khoirul Anwar 4G

Foto:

Ikhtiar berupa kaca diri tentang kompetensi yang kita yakini lalu kita rumuskan bersama. Perihal 6 (enam) pengetahuan, kemampuan dan perilaku yang harus kita rajut dalam diri sebagai aktivis pemuda Islam, agar sematan "Muslim Negarawan" layak tersandingkan di pundak kita semua.

Kompetensi-kompetensi itu adalah; 1) pengetahuan keislaman yang utuh; 2) kredibilitas moral yang senantiasa ajeg dalam jiwa; 3) wawasan ke-Indonesiaan yang maujud dalam laku nasionalisme kita; 4) kepakaran dan profesionalisme sebagai buah dari kegelisahan dan keinginan kita untuk menyelesaikan masalah bangsa dan umat manusia; 5) kepemimpinan yang mampu menggerakkan dan menginspirasi perubahan; dan 6) kemampuan dalam membangun jejaring dan merekatkan jiwa seluruh elemen bangsa.

Kompetensi kritis itu tak berdiri sendiri. Ia kesatuan yang utuh dan melengkapi satu dengan lainnya. Tak akan lengkap sematan "Muslim Negarawan", jika salah satu tertinggal ketika kita sedang dalam proses memadu-sulamkan.

Lalu, adakah asbab yang menjadikan enam (6) kompetensi kritis itu tak lengkap kita rangkai? Saya mencoba  mencatat secara ringkas beberapa sebab-sebabnya;

Pertama, kita tidak tekun mendaras sumber-sumber pengetahuan Islam. Kedua, kita tak mampu menghubungkan narasi langit dengan keragaman aktivitas manusia. Ketiga, tidak utuh melihat Indonesia sebagai sebuah lanskap pelangi yang memerlukan kebesaran jiwa untuk mengerti dan dengan sadar dan bahagia ikut mewarnainya.

Keempat, kita tak selesai mendaras pengetahuan tematik kita dan lebih suka terlibat dalam berbagai bidang yang tak yakin kita kuasai secara utuh. Kelima, kurangnya pengetahuan kita akan orang lain yang berbeda beserta jiwa dan perasaannya yang asing, hingga kadang tak mampu kita selami. Keenam, kita terlalu asyik dengan dunia kita yang kita khayali lengkap tapi ternyata belum menjad jejaring yang lengkap.

Berkaca pada permasalahan mendasar kita yang menjadi batu sandungan untuk menuju "Muslim Negarawan", ada baiknya kita menyelami sebagian cerita Khoirul Anwar di berbagai media. Ia ternyata tekun belajar tentang keislaman sejak masa kuliah. Tak alpa, ia juga ajeg menjaga moral dalam pengembaraannya, mencintai Indonesia dan selalu penuh hasrat untuk berbagi ilmu dengan anak-bangsa.

Lantas, Khoirul Anwar juga mumpuni dan mumtaz dalam pengetahuan yang ia pelajari. Ia juga mampu menginspirasi anak-anak muda Indonesia dan dunia untuk tekun menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu pengetahuan baru. Tak tertinggal, ia berhasil meyakinkan para peneliti dunia dari luar untuk ikut dalam proyek besar mencari sarana baru komunikasi manusia yang kini mendekati puncaknya.

Sadar atau tidak, Khoirul Anwar ternyata sedang melengkapi kompetensi kritisnya menuju cita "Muslim Negarawan" yang ideal seperti halnya cita masing-masing kita. Walaupun masih ada kekurangan di sana-sini dan masih terus berproses tanpa pernah henti, Khoirul Anwar telah membuktikan bahwa ia ingin menjadi "Muslim Negarawan" yang berkontribusi bagi peradaban dunia.

Lalu apa dan sudah sampai dimanakah bentuk pembuktian kita?

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA