Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Pakar Neuropsikologi: Struktur Otak Pelaku LGBT Berbeda dengan Heteroseksual

Kamis 25 Feb 2016 09:12 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Angga Indrawan

 Ilustrasi penderita homoseksual.

Ilustrasi penderita homoseksual.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Perilaku homoseksual pada LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) terbentuk bukanlah dari faktor biologis, lingkunganlah yang membentuk perilaku seperti ini baik sadar atau tidak sadar. Ketika seseorang menemukan rasa nyaman dengan perilaku LGBT, kemudian secara sendirinya sistem saraf dan struktur otak perilaku LGBT juga berubah.

Psikolog Ihsan Gumilar mengungkapkan riset terbaru pada bagian tertentu struktur otaknya bereda dari orang normal berperilaku heteroseksual. Bagian struktur otak tersebut adalah Amygdala, yang akan merespon berbeda terhadap setiap interaksi setiap perilaku sesama jenis. Amygdala merupakan bagian otak yang mempengaruhi emosi seseorang.

"Dalam salah satu percobaan melalui CTscan, pelaku Lesbian diperlihatkan gambar wanita telanjang maka Amygdalanya akan membesar, begitu pula bila gay diperlihatkan gambar pria telanjang. Hal ini tidak dijumpai pada orang Heteroseksual di mana Amydalanya akan membesar bila diperlihatkan gambar lawan jenis," kata dia, dalam diskusi 'Bahaya LGBT Bagi Tatanan Sosial-Budaya Bangsa Indonesia'  di Parlemen Rabu (24/2).

Menurut pakat neuropsikologi ini semua perilaku manusia dipengaruhi oleh otaknya. Diungkapkan dia, saraf otak manusia ada yang dinamakan neuroplastik. Dalam saraf otak ini akan berubah terus menerus dan tidak akan berhenti walaupun manusia telah beruia lanjut. Sistem saraf yang bekerja bersamaan pada setiap satu perilaku secara terus menerus, maka akan membuat sistem saraf itu saling mengenal dan membentuk hubungan yang sama.

Pada kasus pelaku LGBT, ketika mereka melakukan dan merespon perilaku homoseksual, maka syaraf yang bekerja bersamaan terus menerus itu juga akan saling bekerja bersamaan. Sehingga pelaku LGBT tidak lagi bisa membedakan apakah perilaku orientasi seks menyimpang mereka ini datang dari faktor lingkungan atau biologis.

"Menurut saya banyak orang yang akhirnya membodohi pelaku LGBT dan masyarakat indonesia, dengan mengatakan homoseksual sesuatu hal yang normal. Masalah orientasi seksual ini karea dibentuk, lingkungan yang membentuk mereka, karena itu para orang tualah yang bertanggungjawab atas perkembangan anaknya," ungkap dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA