Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Suara Gergaji Menghilang, Suara Burung Datang, Menjaga Hutan dengan Diskon Pengobatan (4)

Jumat 19 Feb 2016 14:00 WIB

Red:

Maraknya pembalakan liar membuat 3.038 hektare di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) Kalimantan Barat harus direhabilitasi pada kurun 2010-2014. Kondisi ekonomi yang buruk mendorong warga di sekitar TNGP mengandalkan hutan sebagai sumber penghasilan. Untuk bisa membayar biaya rumah sakit, kayu hutan menjadi sumber dana. Maka, memadukan konservasi lingkungan dengan insentif pelayanan kesehatan membuat pembalakan liar berkurang drastis di TNGP. Wartawan Republika, Priyantono Oemar, menurunkan hasil liputannya dalam enam tulisan.

Suatu hari tiga bulan lalu, Syarifudin (26 tahun) mendengar bunyi gergaji mesin (chainsaw) dari hutan di dusunnya. Sekitar pukul 16.00, suara gergaji mesin sudah tak terdengar. Ia lantas masuk hutan, mencari lokasi sumber suara itu.

Ia mendapati pohon mentawak yang batangnya sebesar lingkaran tangan tiga orang dewasa sudah ditebang. Mentawak adalah sejenis durian. Harga buahnya Rp 25 ribu per kilogram.

Kayu mentawak, kata Syarifudin, bagus untuk bahan perahu. "Satu meter kubik kayu mentawak dengan ketebalan 2,5 meter, lebar 40 cm, panjang lima meter, dihargai Rp 35 ribu," ungkap warga Dusun Mentubang, Desa Harapan Mulia, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, itu, Rabu (27/1).

Ia ambil oli untuk menuliskan peringatan di penampang tunggak mentawak. "Perambah Hutan," demikian ia menuliskan kalimat. Di bawahnya ia tuliskan kalimat lain, "Ambil Senso di Rumah." Lantas ia tulis nama dia.

Gergaji mesin pembalak ia bawa pulang. Ia simpan di pondok kebun setelah rantainya ia putus. Ditunggu berhari-hari, tak ada yang meminta gergaji itu kepadanya. "Eh, suatu hari, ternyata chainsaw itu sudah tak ada di pondok. Rupanya dicuri sama pemiliknya," kata Syarifudin.

Bising gergaji mesin mengingatkan kenangan Kinari Webb sebelum memulai program di sekitar Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). "Dulu, duduk di sini kita mendengar dengan jelas suara chainsaw dari hutan," ujar pendiri sekaligus pembina Yayasan Asri itu, di kantornya, di Desa Pangkalan Buton, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

Suara gergaji mesin itu setiap hari terdengar bak orkestra yang tak enak didengar. Hutan di dekat kampung rusak membuat suara burung tak terdengar lagi dari kampung kendati di TNGP—menurut Kepala Balai TNGP Dadang Wardhana—ada 236 jenis burung. "Delapan di antaranya endemik Borneo," ujar Dadang.

Pembalakan liar di TNGP menjadi ancaman pula bagi 131 jenis mamalia—orang utan tinggal 2.200 ekor. Juga ancaman bagi 3.500-4.000 jenis vegetasi berkayu—70 jenis di antaranya famili Dipterocarpaceae (meranti-merantian, tinggi 70-85 meter). Kebakaran juga menjadi ancaman. "Tahun 2015 terjadi kebakaran seluas sekitar 604 hektare," ungkap Dadang.

Kebakaran juga pernah menimpa lahan reboisasi Yayasan Asri pada 2013. Bencana ini menjadi duka dan memunculkan rasa kecewa masyarakat Dusun Manjau. Mereka yang menjaga lahan reboisasi itu. "Setiap hari setelah musibah itu saya bangun dengan harapan kebakaran itu hanya mimpi buruk," ujar Erica Pohnan, manajer Konservasi Asri.

Lima tahun mereka menghutankan kembali lahan gundul TNGP di Dusun Manjau, tetapi dalam sekejap sirna. Selama 2009-2012 sudah ada 17 hektare yang ditanami 70.079 bibit. Akhir 2013 direncanakan ada 4,1 hektare lagi lahan gundul yang ditanami.

Kenyataannya, kebakaran itu bukan mimpi. Pada 28 September 2013, api membakar 95 persen lahan reboisasi itu. "Api tidak bisa dipadamkan karena terlalu besar dan merambat dengan cepat," jelas Erica.

Kebakaran terjadi pada tengah hari, dimulai dari lahan pinggir jalan. Warga yang melihat segera melapor ke Asri. Warga sekitar membantu memadamkan api dengan cara menyemprotkan air dan menekan alang-alang ke tanah.

Namun, angin cukup besar sehingga api melompati parit pemecah api (firebreak) dan terus meluas. Erica yang mendapat informasi dua jam setelah kebakaran, segera memberi tahu Hotlin Ompusunggu, pendiri Yayasan Asri. Sekitar pukul 16.00, Hotlin, Erica, dan Cam Webb tiba di Manjau untuk melihat situasi setelah menempuh jarak 40 km.

Kenyataan harus dihadapi. Pada 2 Oktober, bersama Hotlin dan Cam, Erica ikut hadir dalam pertemuan di rumah RT di Manjau untuk mendengarkan masukan warga. Sebnyak 15 warga hadir di situ, menyuarakan keinginan melanjutkan reboisasi. Erica mencatat pernyataan yang muncul.

"Masih ada lahan yang perlu ditanam dan masyarakat mau kerja. Apa yang ada di lahan, kita pelihara; apa yang ada di persemaian, kita tanam," kata Genang, ketua RT yang rumahnya menjadi tempat pertemuan, seperti yang dicatat Erica.

Intinya, reboisasi harus dilanjutkan. "Tanpa reboisasi, hutan makin kurang, makin gundul, dan alang-alang makin luas," ujar Martinus Edi, salah satu warga, seperti yang dicatat Erica juga. Lahan yang terbakar itu tidak serta-merta ditanami. Pohon yang terbakar masih menyisakan bagian pangkal dan diharapkan bisa tumbuh tunas baru. Benar. "Kita pantau terus, dan ternyata banyak tumbuh tunas baru," ujar Hotlin.

Kinari pun ikut bersedih mendapat kabar kebakaran itu. Ia bahkan merasa patah arang, tak bergairah melanjutkan program. Di Amerika, Kinari mendirikan Health in Harmony, lembaga yang mendukung pendanaan Asri.

Dukungan warga Manjau menjadi vitamin. Lahan yang tak tumbuh tunas baru, ditanami lagi. Asri juga mengajak warga Dusun Begasing, 60 km dari Manjau, memulai reboisasi enam hektare pada 2013.

"Dulu lahan ini dipenuhi alang-alang," ujar Fransiskus Xaverius, koordinator Reforestasi Asri. Sejak 1997, hutan ini ditinggalkan perusahaan yang telah membabatnya. Lebih dari 10 tahun ditumbuhi ilalang. Pada 2009, bersama warga Manjau, Asri membantu Balai TNGP menghijaukan kembali. Setiap plot, berukuran 20 x 20 meter, ditanami 100 bibit pohon.

Agar bisa ditanami, alang-alang dibersihkan. Ada plot yang alang-alangnya dibiarkan. "Sebagai model, jika dibiarkan tak ada pohon yang tumbuh sendiri di lahan alang-alang kendati di sekelilingnya telah ada pohon," jelas Kinari.

Ia menunjuk banyak tanaman yang tumbuh di lahan yang telah dihijaukan. Burung dan mamalia datang menyebar biji-bijian. Pohon hasil tanam memiliki  pelat nomor yang diikatkan di batang. Jika masih baru, ditandai dengan batang bambu yang ditancapkan di dekat tanaman itu.

Hotlin mendapatkan batang bambu dari warga yang diberi sikat gigi atau kacamata. Seminggu sekali, Klinik Asri membagikan sikat gigi atau kacamata. "Sikat gigi atau kacamata ditukar dengan batang bambu," ujar Hotlin, dokter gigi yang pernah belajar community development and higher education di Inggris.

Bibit didapat dari pasien. Jenis bibitnya sepersetujuan TNGP. Pada 2015, didapat 2.000 bibit. "Ada warga menabung bibit sudah senilai Rp 2 juta," ungkap Fransiskus.

Kesiagaan pun ditingkatkan untuk menjaga hutan baru ini. Ada 10 warga Manjau yang dijadikan mitra, dibekali jeriken dan alat semprot. Secara bergiliran mereka menjaga hutan siang dan malam. "Empat kali dalam setahun kami membabat alang-alang," ujar Fransiskus.

Pun dibuatkan beberapa kolam beralas terpal untuk mendukung ketersediaan air. Parit pemecah api tetap dipertahankan, dibuat mengelilingi kawasan reforestasi.

Kini, hutan baru hasil reforestasi itu mengundang banyak burung, menjadi bukti pohon bisa menjaga kehidupan. Saat berada di hutan baru itu, Kinari memberi tanda untuk diam sejenak guna mendengarkan beragam kicau burung. Harmoni telah tercipta lagi.

"Dulu, pertama kali ke sini tahun 2009 untuk program reboisasi, yang terdengar hanya suara tiga jenis burung," ujar Kinari. "Kini, rombongan burung enggang pun sudah sering singgah kemari," tambah Fransiskus.  ed: Nur Hasan Murtiaji

Priyantono Oemar
jl warung buncit 37 0811834021

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA