Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Puluhan Santri di Sleman Keracunan

Jumat 12 Feb 2016 16:04 WIB

Rep: Rizma Riyandi/ Red: Ilham

keracunan makanan (ilustrasi)

keracunan makanan (ilustrasi)

Foto: ANTARA/ Saiful Bahri

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Sebanyak 53 santri putra Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfid Quran Yatim Nurani Insani di Dusun Sumbergamol mengalami keracunan. Pengurus Ponpes, Muhammad Athfal Sadad mengatakan, anak-anak asuhannya keracunan usai sarapan nasi dan ikan tongkol asap.

"Awalnya setelah sarapan itu memang di badan anak-anak ada merah-merah, lalu gatal, dan mual. Tapi masih berangkat ke sekolah. Pas di sekolah, sekitar pukul 07.30 baru parah dan muntah-muntah," katanya saat ditemui di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Jumat (12/2).

Para itu kemudian di dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil sekolah dan pesantren.

Adapun santri yang mengalami keracunan merupakan siswa di SDN Gamol, MTS Masitoh, SMP Muhammadiyah Gamping, SMK Muhammadiyah Moyudan, SMPN 1 Godean, dan SMPN 1 Gamping. Menurut Athfal, sebelumnya santri sering makan ikan tongkol. Namun, baru kali ini keracunan massal terjadi.

 

Menurut dia, santri putri baik-baik saja karena menu sarapannya berbeda. "Makanan untuk putra masaknya di dapur pesantren. Tapi yang putri masak sendiri. Makanya yang putri malah tidak kenapa-napa," kata Athfal.

Adapun pembiayaan perawatan para santri ditanggung sepenuhnya oleh pondok. Sekarang, kebanyakan santri korban keracunan massal sudah bisa pulang. Hanya ada 15 orang yang masih diopname di RS PKU Muhammadiyah.

Salah satu santri korban keracunan, Rahmat Khoirudin (14) mengatakan, saat makan ia tidak merasakan gejala-gejala aneh. Bahkan, setelah makan pun kondisinya tubuhnya masih normal. "Tapi setelah 30 menit baru berasa mual dan pusing," katanya.

 

Manajer Pelayanan Keperawatan RS PKU Muhammaditah Gamping, Arif Riyanto memastikan mereka keracunan setelah sarapan. Namun sampai sekarang pihak rumah sakit belum bisa menyimpulkan bahan makanan apa yang menyebabkan keracunan.

"Entah dari tongkol atau dari nasi, kita masih belum tahu. Tapi sampel makanannya sudah kita ambil dan serahkan ke Dinas Kesehatan," kata Arif.

 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA