Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Dinkes Surakarta Sigap Tangani Kasus DBD

Selasa 09 Feb 2016 14:35 WIB

Red: Winda Destiana Putri

Nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD.

Nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD.

Foto: dinsos.jakarta.go.id

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Jawa Tengah, gencar menangani kasus demam berdarah dengue di Solo yang meningkat pada awal 2016, bahkan satu penderita dilaporkan meninggal dunia lantaran penyakit tersebut.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Selasa (9/2) sejak pekan pertama hingga ketiga 2016 jumlah kasus DBD hanya delapan kasus, tetapi memasuki pekan keempat kasus DBD naik menjadi 22 kasus, kata Kabid Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas kesehatan Kota Surakarta Efi S Pertiwi kepada wartawan di Solo.

Ia mengatakan seorang penderita demam berdarah diketahui meninggal dunia berasal dari wilayah Mojongo. "DKK memprediksi, peningkatan kasus DBD berpotensi terjadi hingga April atau Mei 2016. Beberapa wilayah, termasuk Mojosongo, memang daerah rawan DBD. Apalagi sudah ada laporan penderita yang meninggal di sana," kata dia.

Dikatakan sosialisasi pencegahan DBD melalui program penyuluhan khusus maupun kampanye kesehatan pun bakal digencarkan DKK. Kader kesehatan dan warga yang memahami penyebaran virus penyebab DBD akan dilibatkan.

"Yang jelas, kami semakin mewaspadai penyebaran penyakit DBD. Apalagi saat ini musim penghujan tengah berlangsung," katanya.

Efi mengatakan, lonjakan kasus DBD pada pekan keempat masih lebih sedikit dibanding periode yang sama pada 2015. Hingga pekan keempat tahun lalu, sudah terdapat 28 kasus. Di sisi lain, peningkatan kasus DBD menjadikan target penurunan kasus yang sebelumnya dipatok DKK menjadi berat.

Ia mengatakan instansi ini sudah menetapkan batas maksimal jumlah kasus DBD hanya 30 kasus sepanjang 2016. Padahal tahun lalu terdapat 471 kasus demam berdarah dengan sembilan penderita meninggal dunia.

Dikatakan awalnya DKK optimistis target tersebut bisa tercapai. Apalagi sepanjang 2015 menjadi periode tertinggi jumlah kasus DBD dibanding dua tahun sebelumnya yakni 256 kasus DBD pada 2014 serta 264 kasus DBD pada 2013.

Kelurahan bebas DBD juga diproyeksikan meningkat pada tahun ini, di mana separuh dari 51 wilayah kelurahan bisa dinyatakan bebas demam berdarah hingga akhir tahun.

Padahal pada 2015 hanya tujuh kelurahan yang bebas DBD. Jumlahnya pun menurun drastis dari 2014, di mana terdapat 16 kelurahan yang dinyatakan bebas DBD.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA