Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Pasar Obligasi Bertahan di Zona Hijau, Ini Penyebabnya

Rabu 03 Feb 2016 08:03 WIB

Rep: Sonia Fitri/ Red: Nur Aini

Petugas mengamati pergerakan nilai obligasi di BRI Dealing Room, Jakarta, Rabu (18/6).

Petugas mengamati pergerakan nilai obligasi di BRI Dealing Room, Jakarta, Rabu (18/6).

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kestabilan inflasi hingga afirmasi investment grade dari Moody’s beberapa hari lalu berdampak pada masih menguatnya nilai tukar rupiah. Hal itu juga turut berimbas pada pergerakan pasar obligasi yang masih dapat bertahan di zona hijau.

Analis yang merupakan Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia (NHKSI) Reza Priyambada melihat laju pasar obligasi juga masih mampu bergerak positif seiring aksi beli pelaku pasar. "Ditambah sentimen dari mulusnya jalan lelang Surat Utang Negara (SUN), ini semakin memperkokoh laju pasar obligasi di teritori positif," kata dia, Rabu (3/1).

Ia memaparkan, pemerintah menyerap dana senilai Rp 15 triliun dari lelang Surat Utang Negara (SUN) pada hari kedua di pekan ini dari target indikatif Rp 12 triliun dan target maksimal Rp 18 triliun. Kali ini ada lima seri SUN yang dimenangkan pemerintah.

Pertama, SPN03160503 yang diserap Rp 1 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 5,58 persen dan imbalan diskonto. Seri ini meraih penawaran Rp 3,82 triliun dengan yield tertinggi 6,25 persen dan yield terendah 5,5 persen. Instrumen tersebut jatuh tempo pada 3 Mei 2016.

Kedua, SPN12170203 yang dimenangkan sebesar Rp 2 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 6,81 persen dan imbalan diskonto. Instrumen tersebut meraih penawaran Rp 5,17 triliun dengan yield tertinggi 7,3 persen dan yield terendah 6,5 persen. Seri ini akan jatuh tempo pada 3 Februari 2017.

Ketiga, FR0053 jatuh tempo pada 15 Juli 2021 yang diterbitkan sebanyak Rp 2,95 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 7,97 persen dan kupon 8,25 persen. "Seri ini meraih penawaran Rp 8,92 triliun dengan yield tertinggi 8,4 persen dan yield terendah 7,93 persen," ujar Reza.

Keempat, FR0056 yang diserap Rp 3,3 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 8,07 persen dan kupon 8,375 persen. Seri ini memperoleh penawaran Rp 8,89 triliun dengan yield tertinggi 8,4 persen dan yield terendah 8,02 persen. Seri ini jatuh tempo pada 15 September 2026.

Kelima, papar Reza, FR0073 yang dimenangkan sekitar Rp 5,75 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 8,41 persen dan kupon 8,75 persen. Instrumen ini meraih penawaran Rp 7,81 triliun dengan yield tertinggi 9,66 persen dan yield terendah 8,37 persen. Seri ini jatuh tempo pada 15 Mei 2031.

"Jumlah penawaran yang masuk pada lelang kali ini mencapai Rp 34,63 triliun," ungkap dia. Dana hasil lelang ditujukan untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016.

Di sisi lain untuk obligasi pemerintah, laju yield dari tenor pendek tercatat turun lebih besar dibandingkan seri tenor lainnya. Pergerakan yield untuk masing-masing tenor rata-rata ialah untuk pendek (1-4 tahun) rata-rata mengalami penurunan yield -4,02 bps; tenor menengah (5-7 tahun) turun sebesar -3,92 bps; dan panjang (8-30 tahun) naik 2,04 bps. Sementara pada laju obligasi korporasi, laju yield kembali variatif cenderung naik tipis seiring mulai berkurangnya aksi beli meski belum terlalu besar.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA