Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Hukum dan Tafsir Mimpi Melihat Allah SWT

Selasa 12 Jan 2016 19:48 WIB

Red: Nasih Nasrullah

 Suasana shalat Jumat pertama di tahun 2016 di Masjid Istiqlal, Jumat, (1/1).  (foto : MgROL_54)

Suasana shalat Jumat pertama di tahun 2016 di Masjid Istiqlal, Jumat, (1/1). (foto : MgROL_54)

Foto: foto

REPUBLIKA.CO.ID, Salah satu pertanyaan yang kerap muncul di tengah-tengah kita, ialah apakah mungkin seorang hamba bertemu dengan Allah SWT dalam mimpinya’? Persoalan ini pernah mendapat perhatian serius dari Lembaga Fatwa Kerajaan Yordania.

Menurut lembaga ini, berjumpa Sang Khaliq dalam mimpi mungkin dan hukumnya boleh. Mimpi ini juga banyak dialami oleh hamba-hamba Allah yang beriman.

Salah satu nama generasi salaf yang pernah mengalami mimpi ni adalah Imam Ahmad. Mengutip uraian Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Muslim, bahwa seperti penegasan al-Qadhi Iyadh, para ulama sepakat mimpi melihat Allah SWT boleh dan valid.

Jika seseorang melihat Allah dalam wujud yang tak semestinya dan berbentuk fisik, layaknya kita manusia, maka tentu ‘sosok’ tersebut bukanlah Allah. Bagaimanapun, hakikat Allah tak boleh berpolarisasi layaknya makhluk, seperti apapun itu. Berbeda dengan mimpi melihat Rasulullah SAW. Menurut al-Baqilani, mimpi melihat Allah dikuatkan dengan keyakinan di hati, seperti tanda-tanda melihat suatu perkara seperti biasanya.

Imam al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah berpendapat, mimpi bertemu Allah hukumnya boleh. Ini seperti riwayat dari sahabat Mu’adz bin Jabal. Rasulullah SAW bersabda,”Aku pernah tertidur lalu melihat Tuhanku.”

Al-Baghawi menguraikan sejumah tafsiran mimpi bertemu dengan Allah SWT. Secara umum maknanya adalah terciptanya keadilan, kebahagiaan, kesuburan, dan kebaikan di wilayah tersebut. Jika Dia menjanjikan surga, ampunan, dan selamat dari api neraka, maka janji tersebut pasti benar.

Jika dalam kondisi melihat maka ini bermakna kasih sayang, bila dalam posisi berpaling (membelakangi) maka artinya peringatan agar menghindari maksiat dan dosa. (QS Ali Imran [3]: 77). Sedangkan bila Allah memberinya perhiasan dunia dalam mimpi tersebut dan ia menerima, maka itu berarti adalah ujian dan cobaan atau penyakit segera menimpa tubuhnya, pahalanya akan melimpah, meski berlangsung lama, tetapi akan berakhir manis.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA