Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Buktikan, Tinombala!

Selasa 12 Jan 2016 13:00 WIB

Red: operator

REPUBLIKA.CO.ID,Mengapa Operasi Camar Maleo gagal menangkap Santoso di Poso? 


Aparat keamanan sedang bermain di lorong waktu dalam mengejar kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah. Mereka gagal memenuhi tenggat waktu Sabtu, 9 Januari 2016, untuk menangkap hidup atau mati Santoso alias Abu Wardah. Padahal, operasi itu telah dibantu TNI di garis belakang. 

Operasi Camar Maleo IV akhirnya dinyatakan dihentikan setelah berjalan selama tiga bulan terakhir ini. "Dengan berakhirnya Camar Maleo IV, selanjutnya operasi pengejaran kelompok Santoso CS akan diganti menjadi Tinombala," kata Kepala Polres Poso AKBP Ronny Suseno, Kamis (7/1).

Tinombala merupakan nama sebuah puncak gunung di Pegunungan Bosagong. Gunung ini terletak di Desa Tinombala, Kecamatan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Jarak dari Parigi sekitar 200 km sedangkan jarak dari Tolitoli sekitar 40 km. Lokasi itu diyakini aparat keamanan sebagai tempat persembunyian Santoso dkk.

Mungkin kepolisian lupa bahwa nama Operasi Tinombala pernah digunakan pada 1977. Ya,  39 tahun silam.  Pemerintah memberikan nama Operasi Tinombala, salah satu operasi SAR (search and rescue/pencarian dan penyelamatan)  terbesar dalam sejarah Indonesia pada saat itu. 

Operasi ini melibatkan ratusan personel gabungan dari TNI, Polri, Badan SAR Nasional, relawan, maupun penduduk setempat. Operasi SAR ini mendapat liputan luas dari media massa, baik lokal maupun asing.  

Pada hari kedelapan, operasi berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat Merpati Nusantara Airlines jenis DHC-6 Twin Otter beregistrasi PK-NUP. Pesawat nahas itu jatuh pada ketinggian 2.135 meter di kawasan pegunungan tersebut. 

Tragedi Tinombala pada 29 Maret 1977 menjadi berita utama media massa saat itu. Selama dua pekan, selalu ditempatkan di halaman pertama koran-koran terkemuka.  Begitu besarnya peristiwa ini hingga melahirkan sebuah naskah cerita yang ditulis oleh M Aminudin A. 

Bahkan, naskah cerita ini akhirnya dibuat film dengan judul Operasi di Tinombala pada 1978. Film Operasi Tinombala dibintangi aktor WD Mochtar dan artis Tuty Kirana serta sutradara M Sharieffudin. Film berdurasi 116 menit itu bercerita tentang peristiwa tragis jatuhnya pesawat Merpati Nusantara Airlines PK-NUP di Gunung Tinombala. 

Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Cepat) TNI AU yang kini bernama Korps Pasukan Khas menurunkan satu regu dalam operasi SAR tersebut. Setelah ditemukan tempat jatuhnya pesawat, tim dari Kopasgat bergerak melakukan evakuasi. Mereka diturunkan dengan cara raeppling dari helikopter. Kemudian, menebang puluhan pohon hanya dalam waktu beberapa jam guna membuat helipad darurat. 

Sebagai penghargaan atas jasanya dalam operasi SAR Tinombala, para personel Kopasgat maupun TNI AU yang terlibat dalam misi tersebut memperoleh kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) satu tingkat.

Tim TNI dalam Operasi Tinombala 1977 memerlukan waktu sekitar 13 hari untuk menyelesaikan kasus ini. Termasuk, membuat tempat pendaratan helikopter (helipad). 

Para korban baru dievakuasi pada hari ke-10 dan memakan waktu empat hari sampai semuanya selesai. Total diperlukan waktu 13 hari dalam operasi SAR Tinombala. Mereka berhasil mengatasi kesulitan dan medan yang berat dalam Operasi Tinombala 1977. 

Kesulitan

Memang tidak mudah bagi personel kepolisian untuk bisa menangkap Santoso dkk yang telah bergerilya sekitar 10 tahun lamanya di kawasan hutan maupun gunung di daerah tersebut. Kepolisian tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengejar kelompok Santoso di hutan, apalagi di pegunungan. 

Pengakuan itu dikemukakan langsung oleh Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti. Karena itulah, Mabes Polri meminta agar Mabes TNI memberikan pelatihan kepada dua kompi personel Korps Brigade Mobil (Brimob) untuk bisa bertahan di hutan maupun gunung dalam mengejar Santoso dkk.  

Dengan berakhirnya Operasi Camar Maleo IV, sejumlah pasukan Polri dan TNI yang di BKO (bawah kendali operasi) Polri mulai ditarik dari pos masing-masing yang seluruhnya berjumlah 24 pos.

Menurut AKBP Ronny Suseno, 1.000 personel Brimob Mabes Polri yang di BKO-kan ke Polda Sulteng untuk operasi tersebut. Mereka telah ditarik sebanyak 300 orang untuk penggodokan dan akan dikembalikan lagi ke Poso. Sementara, 700 personel TNI semuanya telah ditarik ke kesatuan masing-masing. 

"Saat ini, masih ada 700 personel Brimob Mabes Polri yang terus berada di wilayah operasi untuk penyekatan kawasan antara lokasi aktivitas para teroris dan permukiman masyarakat yang berbatasan dengan hutan di Kecamatan Poso Pesisir utara dan selatan," ujar Kepala Polres.

Namun, Ronny mengaku belum mengetahui persis kapan Operasi Tinombala akan dimulai. Ia mengakui personelnya juga akan melibatkan sekitar 1.000 anggota BKO dari Mabes Polri seperti pada Operasi Camar Maleo IV.

Terkait belum tertangkapnya Santoso, Ronny mengemukakan bahwa salah satu kendala membekuk Santoso dan pengikutnya adalah luas dan beratnya medan yang menjadi tempat aktivitas dan persembunyian kelompok MIT itu.

Sebelumnya, Kapolda Sulteng Brigjen Idham Azis mengemukakan, Santoso dan 21 pengikutnya masih berada di dalam kawasan hutan Poso Pesisir. Kondisi mereka semakin terjepit. Kekuatannya semakin lemah dan logistik makin berkurang.

"Setelah Operasi Camar Maleo IV berakhir, perburuan Santoso dkk akan tetap dilanjutkan dengan operasi mandiri Polda Sulteng sambil menunggu keputusan Mabes Polri," ujarnya.

Selama Operasi Camar Maleo I, II, III, dan IV digelar dari Januari 2015 sampai Januari 2016, kepolisian telah menangkap 24 orang, tujuh orang tewas, dan 17 lainnya dalam proses hukum. Operasi ini juga mengakibatkan dua orang polisi dan seorang anggota TNI gugur dan empat polisi luka-luka.

Polisi juga menyita sejumlah barang bukti dugaan kegiatan terorisme, seperti senjata api, amunisi, bom rakitan, bahan pembuat bom, pakaian, senter, pakaian dan bendera ISIS, serta banyak benda lainnya.  

Kebijakan pelaksanaan operasi pengejaran kelompok Santoso terpusat di Mabes Polri. Sehingga, kewenangan operasi gabungan TNI-Polri tidak bisa dipastikan dan masih menunggu koordinasi. 

"Saya hingga kini belum bisa memastikan apakah dalam Operasi Tinombala masih melibatkan unsur TNI atau tidak, kita lihat saja nanti," ungkap Ronny. 

Apakah operasi dengan nama yang sama akan mengikuti jejak keberhasilan pada 1977? Tentu saja harus dibuktikan.
 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA