Sabtu, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Sabtu, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Korban Dugaan Terapi Chiropractic Gagal Kuliah ke Prancis

Jumat 08 Jan 2016 13:00 WIB

Red: operator

REPUBLIKA.CO.ID,Korban Dugaan Terapi Chiropractic Gagal Kuliah ke Prancis

Impi Allya Siska Nadya kuliah S-2 di Prancis pupus. Setelah mendapat gelar Bachelor of Creative Industries (Media and Communication)

Queensland University of Technology, Brisbane, Australia, ia sejatinya akan terbang ke Paris pada 18 Agustus 2015.

Dia menempuh program MBA di Edhec Bussiness School Lille di Roubaix, kota kecil di perbatasan Prancis dan Belgia. Sayangnya, rencana gadis kelahiran Bandung, 28 Desember 1982, ini urung terlaksana setelah kematian menjemputnya pada 7 Agustus 2015.

Atas kepergian putri keempatnya, duka mendalam dirasakan pasangan Alfian Helmy dan Arnisa Helmy. Kedua masih terpukul setelah mendapati kematian yang dialami anaknya terlihat tak wajar setelah menjalani pengobatan di klinik Chiropratic First di Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta Selatan, pada 6 Agustus 2015.

Direskrimum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti yang mendapat laporan atas kasus malpraktik itu menceritakan kronologi kejadian.

Menurut dia, Helmy yang merupakan mantan wakil direktur komunikasi PT PLN menjelaskan, kematian putrinya disebabkan oleh dugaan malpraktik dr Randall Cafferty. Dokter berkewarganegaraan Amerika Serikat (AS) tersebut menjadi rujukan Helmy yang ingin menyem buh kan penyakit nyeri pada leher dan tulang belakang almarhum putrinya.

Helmy pernah mengantar putri untuk menjalani terapi ke dokter Randall sebanyak dua kali pada 6 Agustus 2015, yaitu pukul 13.00 WIB dan pukul 18.30 WIB. Atas permintaan sang dokter, ia juga membawa uang sebesar Rp 17 juta. Itu dilakukan untuk pembayaran therapy adjustment sebanyak 40 kali. 

Meskipun sempat curiga, orang tua tetap mengikuti kehendak dokter klinik dokter demi kesembuhan anaknya. Dari ibu korban, Arnisa Helmy, menceritakan metode terapi sang dokter dengan menggerakan kepala Siska ke kanan dan ke kiri sampai terdengar suara \"krkk\" seperti tulang patah. 

Setelah menjalani terapi, Siska kon disinya malah bertambah buruk.

Sesaat tiba di rumah, sekitar pukul 23.00 WIB, korban mengalami kesakitan di bagian leher sambil berteriak.

Allya terlihat mengalami kesemutan dan leher bagian bawah pun membengkak hingga di bagian pundak kiri. 

Alfian pun segera membawa putri itu ke Rumah Sakit (RS) Pondok Indah.

 

Di sana, ia mendapatkan pertolongan pertama dari dr Fahreza Aditya Neldy.

Ternyata, setelah itu, takdir berkata lain. Sebab, pada 7 Agustus 2015, sekitar pukul 06.15 WIB, putrinya mengembuskan napas terakhir.

Dr Fahreza kemudian menerbitkan sebuah catatan medis berisi keterangan penyakit korban adalah kifosis cervicalicis. Pendapat itu berbeda dengan keterangan dr Randall yang mengatakan korban mengalami kelainan tulang leher. 

Alfian pun melaporkan kejadian yang menimpa anaknya ke Polda Metro Jaya pada 12 Agustus 2015.

\"Keluarga korban tidak setuju apabila jasad Allya diautopsi,\" katanya. 

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta merilis, klinik Chiropractic First sudah sekitar lima tahun beroperasi. Kepala Dinkes DKI Kusmedi mengatakan, basis operasional klinik tersebut mayoritas bertempat di pusat perbelanjaan.

Kusmedi menjelaskan, ada sekitar 10 klinik Chiropractic yang beroperasi di Jakarta. Dia melanjutkan, berdasarkan instruksi gubernur, tempat klinik disegel, termasuk kantor pusatnya di Jalan Gatot Subroto.

Dinkes DKI, kata dia, masih menelaah izin operasional yang dimiliki klinik Chiropractic.

 

Dia menyatakan, praktik klinik itu bakal diaudit medis profesi oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

Penyelidikan itu, kata dia, paling cepat memakan waktu enam bulan.

Dia memastikan akan menertibkan klinik serupa untuk memastikan izin operasi di Indonesia.

\"Karena, bukan hanya Chiropratic, banyak juga klinik estetika pengurusan badan yang kayak gitu saya juga nggak tauada izinnya apa belom,\" kata Kusmedi.

Terkait izin praktik dr Randall, ia menegaskan, harusnya dokter asal AS itu mengantongi izin dari Kementerian Kesehatan. \"Kalau pengobatan tradisionalnya ke kita (Dinkes), pengawasan juga kita,\" katanya.

Menurut spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dari Flexfree Musculos ke letal RehabilitationClinic, dr Ferius Soewito SpKFR, sebenarnya terapi alternatif itu di Indonesia cukup populer.

Dia mengatakan, Chiropractor banyak dari luar negeri dan cukup populer di Indonesia. Hanya, kata dia, dasar pengobatan Chiropractor berbeda dengan medis. Sehingga, sulit menilai efektivitas dan keamanannya. 

\"Namun, ini tak berarti tidak efektif dan tidak aman. Di Indonesia sendiri, setahu saya, belum ada sekolah Chiropractor,\" katanya.

Ferius menyarankan, sebelum memutuskan menjalani pengobatan alternatif itu, calon pasien juga perlu meneliti latar belakang terapis dan efektivitas pengobatan yang akan di - jalani. (c21/c18/antara, de:erik purnama)

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA