Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Tiga Motif Bangsa Eropa Kuasai Afrika

Selasa 05 Jan 2016 21:53 WIB

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko

afrika

afrika

Foto: en.wikipedia.org

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebelum memahami kolonialisme bangsa-bangsa Eropa di Afrika, kita dihadapkan pada pertanyaan kunci. Mengapa orang Eropa begitu tertarik untuk menancapkan kekuasaan di Afrika?

Motif Eropa terhadap Afrika dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu politik, budaya, dan ekonomi. Motivasi politik didorong oleh politik persaingan antarnegara-negara Eropa untuk mendominasi dunia pada abad ke-18. Setiap negara berusaha meningkatkan gengsi dengan memperluas tanah jajahan. Semakin luas wilayah jajahan, semakin tinggi prestise bangsa tersebut di mata internasional.

(Baca: Dahulu Bangsa Afrika Lebih Superior Ketimbang Eropa)

Sementara, alasan budaya pada kolonisasi berakar dalam etnosentrisme dan arogansi orang-orang Eropa, yang menganggap budaya suku Afrika lebih rendah. Dengan sejenis kesombongan tertentu, orang-orang Eropa merasa memiliki tugas untuk 'membudayakan' dan 'memperadabkan' orang-orang Afrika. Keyakinan ini dilakukan melalui pengiriman para misionaris ke pelosok-pelosok Afrika.

Faktor ketiga adalah yang paling signifikan. Sumber daya alam Afrika merupakan komponen penting yang memotivasi kolonialisme Eropa. Pada awal 1800-an, perdagangan budak antara Afrika, Amerika, dan Eropa telah mengeksploitasi penduduk Afrika. Para budak ini dipekerjakan di lahan-lahan milik Eropa, dijadikan tentara, atau mengurusi hal-hal domestik.

Setelah perdagangan budak perlahan dihapus, eksploitasi SDA menjadi target berikutnya. Jutawan pertambangan Cecil Rhodes, misalnya, mengeksploitasi tambang emas dan berlian di Afrika Selatan, serta memainkan peran penting dalam mengamankan kekuasaan Inggris atas Zimbabwe. Penguasaan Eropa atas wilayah-wilayah strategis di Afrika berguna untuk mempertahankan kontrol internasional.

Bagi Inggris, Afrika Selatan menyediakan pelabuhan penting bagi pelayaran kapal-kapal mereka dalam perjalanan ke India. Mulai 1869, Terusan Suez di Mesir juga menciptakan rute yang lebih pendek antara Inggris dan koloninya, serta membentuk rute ke ladang minyak di Timur Tengah.

(Baca Juga: Eropa Sebarkan Gagasan Afrika 'Benua Gelap')

Vladimir Illich Lenin dalam Imperialism: The Highest State of Capitalism telah mengartikulasikan alasan ekonomi untuk perpanjangan kekuasaan di negara-negara dunia ketiga. Lenin berpendapat, negara-negara Eropa berusaha menjajah Afrika untuk menanggapi tuntutan yang melekat dari sistem ekonomi kapitalis.

Masyarakat setempat didorong menanam tanaman yang laku keras di pasar Eropa, seperti kapas. Kelaparan terjadi di tanah tempat petani menanam tanaman ekspor untuk negara-negara imperialis, alih-alih mencukupi kebutuhan pangan mereka. Lagi-lagi, sistem kapitalis tidak hanya menuntut eksploitasi SDA yang dibutuhkan sebagai bahan baku utama revolusi industri di negara mereka, tetapi juga eksploitasi tenaga kerja murah yang berlimpah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA