Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Wednesday, 4 Jumadil Awwal 1443 / 08 December 2021

Budak Seks Korea, Taiwan Desak Jepang Minta Maaf

Selasa 29 Dec 2015 18:11 WIB

Red: Ani Nursalikah

Mantan perempuan penghibur Korea Selatan yang dipaksa melayani militer Jepang pada PD II, Lee Oak-sun (kedua dari kanan), Selasa, 29 Desember 2015.

Mantan perempuan penghibur Korea Selatan yang dipaksa melayani militer Jepang pada PD II, Lee Oak-sun (kedua dari kanan), Selasa, 29 Desember 2015.

Foto: AP Photo/Ahn Young-joon

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Taiwan pada Selasa (29/12) meminta Jepang memohon maaf dan memberikan ganti rugi kepada perempuan penghibur Korea Selatan pada masa perang setelah Tokyo dan Seoul mencapai kesepakatan terkait masalah batin tersebut.

Jepang menawarkan permohonan maaf tulus dan memberikan dana satu miliar yen (83 miliar rupiah lebih) kepada korban. Kesepakatan yang diumumkan pada Senin itu menuai pujian dari Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sebagai masa baru dalam hubungan kedua negara tersebut.

(Baca: Kesepakatan Budak Seks, Korsel Minta Dukungan Korban)

Presiden Taiwan Ma Ying-jeou mendesak Jepang melakukan langkah sama kepada perempuan penghibur asal Taiwan.

"Pendirian pemerintah adalah menuntut pemerintah Jepang meminta maaf kepada korban asal negara kami pada saat Perang Dunia II, untuk memberikan ganti rugi kepada mereka, dan mengembalikan keadilan dan kehormatan bagi mereka," kata Ma kepada wartawan pada Selasa.

"Kami harap pemerintah Jepang dapat melakukan hal yang lebih baik dan merawat kesejahteraan dan kehormatan para wanita penghibur lebih baik. Pendirian kami tidak berubah," tambahnya.

Menteri Luar Negeri David Lin mengatakan Taipei telah meminta untuk negosiasi lebih lanjut dengan Tokyo terkait isu tersebut.

"Kami berharap akan kemajuan permasalahan ini yang konkrit di masa depan, yaitu Jepang memahami tuntutan kami dan berkeinginan untuk mempertimbangkannya. Kami merasakan akan ada kemajuan dalam masalah terkait namun kami tidak dapat memperkirakan hasilnya," kata Lin.

Masalah tentang perempuan penghibur dan permohonan maaf Jepang masih diwarnai nuansa politik di Taiwan, dengan demonstrasi yang umum terjadi. Namun, waktu semakin menipis dikarenakan jumlah para bekas wanita penghibur menurun dengan cepat dikarenakan menuanya usia. Dari 58 wanita penghibur asal Taiwan yang selamat, 54 di antaranya telah meninggal, menurut Yayasan Penyelamatan Wanita Taipei, yang mendampingi para wanita tersebut.

 

Baca juga:

10 Penemuan Ruang Angkasa Terhebat 2015

Orang Pertama yang Mendayung Solo Melintasi Samudera Pasifik Tiba di Australia

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA