Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Ini Kronologi Pemulangan 12 Nelayan dari Malaysia

Selasa 08 Des 2015 20:09 WIB

Rep: C25/ Red: Winda Destiana Putri

Pemulangan nelayan Indonesia dari Malaysia

Pemulangan nelayan Indonesia dari Malaysia

Foto: Dok: DPD

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belasan nelayan tradisional asal Langkat, Sumatra Utara, dipulangkan dari Malaysia hari ini di Bandara Kualanamu, Mereka dipulangkan setelah ditangkap karena melewati batas air saat mencari ikan.

Ketua Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Parlindungan Purba, menerangkan 12 nelayan tersebut sebelumnya telah ditangkap Kepolisian Malaysia, pada 21 Juni lalu.

Ia menerangkan kalau mereka didakwa melintasi batas perairan negara, dan disidangkan di pengadilan Malaysia pada 26 Juni, dengan hukuman enam bulan penjara.

Bersama Konsulat Jenderal di Penang, ia kemudian mendatangi penjara tempat ke 12 nelayan ditahan, untuk menyampaikan salam dari para sanak keluarga di Langkat.

Setelah itu, DPD langsung mengirimkan surat untuk banding ke Malaysia, demi membebaskan para nelayan atau paling tidak mengurangi hukuman mereka.

Ternyata, ke 12 nelayan bisa ke luar dari penjara pada 6 Desember kemarin, yang artinya mereka hanya menjalani masa empat bulan penjara karena dipotong masa tahanan. Bersama sejumlah pihak terkait, Parlindungan menjemput para nelayan yang saat ditemui dalam kondisi sehat, dan tidak terlihat bekas kekerasan apapun.

"Sehat dan mereka mengaku diperlakukan dengan baik, tidak ada keluhan," kata Parlindungan kepada Republika, Selasa (8/12).

Belajar dari kasus tersebut, Parlindungan meminta semua pihak berwenang untuk bekerja sama, untuk lebih giat melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya para nelayan. Hal itu dimaksudkan agar para nelayan tidak lagi melewati batas laut, yang akan mengakibatkan mereka ditangkap hanya karena ketidaktahuan mereka.

Terkait rencana sosialisasi sendiri, Parlindungan menjelaskan DPD telah menggerakan penanaman mangrove di laut-laut terluar, sebagai batasan yang dapat diketahui para nelayan sebagai batas laut. Ia juga mengajak semua pihk, termasuk pemerintah, untuk dapat menghargai para nelayan dengan menunjukkan kepedulian kepada mereka.

"Ayo kita hargai nelayan," ujar Parlindungan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA