Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Peneliti: Jangan Gunakan Jaket Kalau Ingin Turunkan Berat Badan

Senin 07 Dec 2015 11:53 WIB

Rep: C01/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Perempuan menggunakan jaket

Perempuan menggunakan jaket

Foto: Dailymail.co.uk

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian yang dilakukan University of Geneva menunjukkan bahwa kedinginan dapat membatu seseorang untuk menurunkan berat badan. Karena itu, tidak mengenakan jaket saat merasa dingin dapat menjadi satu cara untuk membantu menurunkan berat badan seseorang.

Penelitian University of Geneva menunjukkan bahwa tubuh yang dibawa berolahraga, atau tubuh yang terpapar temperatur dingin, dapat menciptakan lemak cokelat dan lemak beige, dua dari tiga tipe lemak, dengan versi yang lebih baik. Kedua tipe lemak ini, menurut penelitian, dapat membantu proses pembakaran kalori dalam tubuh.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa paparan dingin pada tubuh dapat secara drastis mengubah komposisi bakteri pada usus. Perubahan drastis pada komposisi bakteri dalam usus ini berujung pada pembakaran lemak serta peningkatan metabolisme glukosa. Hal ini yang kemudian membantu seseorang menurunkan berat badannya.

(Baca: Hindari Lima Minuman Ini Agar tak Mudah Gemuk)

Penemuan dalam penelitian tersebut dapat membantu pencarian cara penanganan yang baru terhadap orang dengan berat badan berlebih dan obesitas. Profesor dari University of Geneva, Mirko Trajkovski, juga mengatakan ia dan timnya berhasil menemukan bukti menarik bahwa mikroba usus memegang peran penting dalam beradaptasi dengan lingkungan melalui pengaturan keseimbangan energi tubuh.

"Kami sangat antusias untuk menguji apakah beberapa mikroba ini dapat menjadi sebuah pendekatan yang menjanjikan untuk mencegah obesitas dan hal lain yang berhubungan dengan kondisi metabolik tubuh," jelas Mirko.

Mikroba dalam usus sejak dulu kerap dinilai memiliki keterkaitan dengan obesitas dan berbagai kondisi terkait obesitas, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Ini disebabkan komposisi dari jutaan bakteri dalam usus dapat mempengaruhi bagaimana seseorang memetabolisme berbagai makanan yang dimakan, serta seberapa banyak berat yang bertambah akibat makan makanan tersebut.

Salah satu bagian dari penelitian ini ialah pengetesan terhadap tikus sebagai kelinci percobaan. Sejumlah tikus dipaparkan suhu dingin sebesar 6 derajat celcius lebih dari 10 hari. Dari situ diketahui bahwa mikroba usus pada tikus-tikus tersebut mengalami perubahan. Tikus-tikus itu pun cukup terhambat dalam meningkatkan berat badan mereka.

Pasalnya, metabolisme glukosa pada tubuh tikus tersebut mengalami peningkatan. Selain itu, formasi lemak beige pada tubuh-tubuh tikus tersebut juga menyebabkan penurunan berat badan pada tikus. Meski begitu, setelah tiga minggu terpapar dingin, berat badan para tikus mulai stabil kembali.

"Kami sangat terkejut untuk melihat bahwa mikroba usus memungkinkan mamalia menyimpan lebih banyak makanan lagi dari makanana sebagai cara untuk beradaptasi dengan paparan dingin," ungkap Mirko.

 

Baca juga:

Muslim AS Galang Dana untuk Keluarga Korban San Bernardino

Kisah 'Sang Paman', Penyumbang Rahasia 1.400 Buku di Sekolah Jepang

10 Hal yang Perlu Suami Tahu tentang Istri Pascamelahirkan

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA