Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

'Eat Halal and Well for Less'

Sabtu 28 Nov 2015 14:50 WIB

Red: M Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc dan Layyina Tamanni

(Sakinah Finance, Colchester, UK)

Kali ini Layyina kembali menceritakan program televisi yang kerap ditontonnya, "Eat Well for Less" atau "Makan lebih baik dengan harga murah". Acara ini mulai ditayangkan BBC pada awal 2015. Program televisi reality show ini ingin mengajak para keluarga untuk belanja sehat dan berhemat dalam berbelanja.

Pesan program

Menurut Layyina pesan yang didapat adalah kita sebaiknya tidak melihat merek barang ketika mengkonsumsi makanan dan minuman karena dapat menghemat ratusan pound dalam satu bulan belanja (£100 kira-kira Rp 2juta). Pelajaran lain yang dapat dipetik  dari program ini juga mahal tidak semestinya sehat, jadi carilah makanan minuman sehat yang murah. 

Biaya hidup di Inggris yang termasuk salah satu termahal di dunia menjadikan program ini tontonan yang diminati terutama dari kalangan menengah ke bawah. Apalagi masalah kesehatan yang luar biasa menjadi tumpuan utama si negerinya Harry Porter ini.

Bagaimana memilih yang sehat dan murah

Memilih produk yang tidak popular bukan berarti tidak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. 

Pembeli seharusnya jeli dan cermat ketika membaca bahan-bahan yang terkandung di dalam produk dan tidak serta merta percaya kepada iklan di media. Dengan keahlian berbelanja yang baik, pembeli akan berhasil berhemat dan pada saat yang bersamaan mendapatkan barang berkualitas baik.

Hal pertama yang perlu dijadikan kebiasaan bagi keluarga adalah makan masakan rumah dan mengurangi makanan siap saji. Kedua, belanja di pasar tradisional karena lebih menjanjikan bahan makanan segar, sehat dan murah. 

Secara logika, pasar tradisional dapat menekan harga karena para penjual tidak perlu belanja iklan, membayar sewa mahal, dan mengemas baik produk jualannya. 

Ketiga, membawa catatan belanja dan uang secukupnya untuk menghindari sifat shopaholic (hobi belanja). Keempat, pandai merencanakan makanan yang bervariasi penuh gizi untuk konsumsi keluarga dan tamu. 

Pola belanja masyarakat kita

Bagaimana dengan prilaku konsumsi masyarakat Indonesia? Sejauh mana merek atau brand mempengaruhi gaya belanja mereka? Ternyata para perusahaan besar berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi teratas berkenaan dengan Top of Market Share, Top of Mind Share dan Top of Commitment Share yang diadakan oleh Majalah SWA, majalah Marketing, Frontier Consulting Group dan lain - lain. 

Maka dari itu para perusahaan tidak merasa rugi jika harus belanja iklan ratusan juta yang terkadang melibatkan artis seksi hanya untuk merebut hati masyarakat supaya menjadikan produk mereka pilihan utama. 

Eat halal dan thayib

Satu hal yang paling utama bagi keluarga Muslim di Inggris ketika berbelanja adalah memastikan makanan dan minuman yang dibeli adalah halal. Bisa dibayangkan para pendatang yang baru ke negara ini akan kewalahan di hari-hari pertama mereka berbelanja. 

Namun dibandingkan negara Eropa lainnya, pencantuman label halal lebih banyak ditemui di pasar tradisional, toko-toko dan pusat belanja di Inggris. Di Italia dan Prancis, misalnya, bagi pendatang yang hanya tahu berbahasa Inggris, membaca bahan-bahan makanan yang ada di luar kemasan adalah suatu hal yang tidak mudah karena bahasa yang digunakan adalah kebanyakannya bukan bahasa Inggris. 

Untuk bertanya dengan pegawai toko dan pembeli di sekitar kita pun tidak mudah karena bahasa Inggris yang jarang dipakai di sana. Kalaupun mereka tahu konsep halal, hanya terbatas tahu bahwa produk jualannya tidak mengandung babi. 

Logo Halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia

Topik pengajian makanan halal adalah salah satu topik kajian terlaris di kalangan masyarakat Muslim di Inggris termasuk komunitas Muslim Indonesia di Glasgow, Skotlandia yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Pengajian KIBAR Glasgow. 

Bukan hanya Muslim, bahkan sebagian masyarakat non-Muslim mulai menyadari tentang banyak hikmah dibalik makanan yang diproses secara halal yang sejalan dengan keprihatinan mereka selama ini yaitu tentang animal rights, harus higenis, dan proses pemotongan yang tidak melalui pembiusan (stunned). 

Dari bacaan di atas kita mungkin punya usulan kalau saja reality show tersebut dapat dikemas lebih baik lagi yang bukan saja sehat dan murah tetapi sehat, murah dan halal (Eat Halal and Well for Less) paling tidak untuk konsumsi masyarakat Muslim. 

Sebagai umat Islam, kita dapati bahwa 1437 tahun yang lalu, Rasulullah SAW sudah menda’wahkan firman Allah dalam salah satu surah madaniyah, yaitu Surah Al-Baqarah (2): 168 yang artinya:

”Wahai manusia! Makanlah yang halal (halalan) lagi baik (thayyiban) yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Menurut tafsir Ibnu Katsir, Allah swt memerintahkan seluruh manusia agar memakan apa saja yang ada dimuka bumi, yaitu makanan yang halal, baik, dan bermanfaat bagi dirinya sendiri yang tidak membahayakan bagi tubuh dan akal pikirannya. 

Halal di sini mencakup halal memperolehnya, seperti tidak dengan cara merampas dan mencuri, demikian juga tidak dengan melalui transaksi dagang yang haram atau cara yang haram dan tidak membantu perkara yang haram. 

Sedangkan thayyib, mengutip tulisan di Majalah Gontor, 27 Agustus 2014 ada dua pemahaman yaitu menurut al-Isfahani, adalah sesuatu yang dirasakan enak oleh indra dan jiwa, atau segala sesuatu selain yang menyakitkan dan menjijikkan. 

Yang kedua adalah dari Ibnu Taimiyah yang menerangkan dalam kitab Majmu’ Fatawa bahwa thayyib adalah yang membuat baik jasmani, rohani, akal dan akhlak manusia. Kalau sekedar halal saja tidak cukup, perlukah MUI menerbitkan logo “Halal & Thayyib”? Wallahu a’lam bis-shawaab.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA