Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Ranting Pohon Sengon Bisa Dibuat Jadi Bahan Superkapasitor

Rabu 25 Nov 2015 16:52 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Tim Universitas Sriwijaya beraksi di OSN Pertamina

Tim Universitas Sriwijaya beraksi di OSN Pertamina

Foto: Republika/dwi murdaningsih

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Mahasiswa Universitas Sriwijaya membuat superkapasitor dari ranting kulit sengon. Wulandhari, M Ridho Prayogo, Yuliza Hanifa memanfaatkan kulit sengon dan grafit sebagai bahan penyimpan daya. Di masa depan, hasil riset ini diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif baterai untuk digunakan dalam ponsel.

Penelitian mereka dipresentasikan dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina yang digelar baru-baru ini di Universitas Indonesia. Mahasiswa jurusan Kimia ini mempresentasikan proyek riset berjudul ‘Natural derived a honeycomb carbon as active material for energy storage device’.

“Kelebihan superkapasitor ini mengisinya cepat. Kita mencoba mengisi selama 5 detik, ketika dilepas bisa digunakan selama beberapa menit. Ini sepertinya cocok jadi baterai Android yang sering nge-drop,” ujar Ridho, saat ditemui.

Superkapasitor ini dibuat dengan mengawinkan antara grafit dan ranting kayu sengon. Kayu sengon merupakan salah satu limbah yang tidak lagi dimanfaatkan. Oleh  ketiga mahasiswa ini, kayu sengon dipotong-potong menjadi kecil kemudian dipanaskan pada suhu 800 derajat Celcius. Mereka memanaskan kayu sengon dalam microwave yang sudah dimodifikasi. Hasilnya, akan diperoleh honeycomb.

Yuliza mengatakan honeycomb dan grafit memiliki sifat yang berpotensi bisa diolah menjadi superkapasitor. Grafit memiliki sifat penghantar yang tinggi namun berkapasitas rendah. Sebaliknya, honeycomb memiliki kapasitas tinggi namun sifat daya hantar atau konduktivitasnya rendah. Perkawinan dua material ini, kata dia diharapkan bisa menghasilkan superkapasitor yang ideal.

Mereka lantas mengkombinasikan grafit dan honeycomb dengan perbandingan 10:1. Campuran ini kemudian dibuat menjadi pelat yang bernama Thin Layer Electroda (TLE). Kombinasi grafit dan honeycomb dioleskan dalam aluminium foil dan aluminum. Kombinasi grafit dan honeycomb bisa menghasilkan elektron. Sementara, separator yang diolesi cairan elektrolit berfungsi untuk menggerakkan elektron.

“Ini cara kerjanya mirip dengan baterai hanya saja perbedaan dalam prinsip kerjanya. Baterai menggunakan prinsip reduksi dan oksidasi sementara superkapasitor ini prinsipnya absorpsi ion,” kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA