Kamis, 8 Rabiul Akhir 1441 / 05 Desember 2019

Kamis, 8 Rabiul Akhir 1441 / 05 Desember 2019

Empat Kali Gagal Ikut Tes CPNS, Guru Honorer Terus Mengajar

Senin 23 Nov 2015 22:15 WIB

Rep: Fauzi Ridwan/ Red: Muhammad Hafil

Ribuan guru honorer yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menggelar aksi mogok dan unjuk rasa di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (15/9).  (Republika/Rakhmawaty La’lang)

Ribuan guru honorer yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menggelar aksi mogok dan unjuk rasa di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (15/9). (Republika/Rakhmawaty La’lang)

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM- Uswatun Hasanah (26 tahun), guru honorer asal Lombok Tengah mengaku sudah empat kali mengikuti tes seleksi Calon Pengawai Negeri Sipil (CPNS). Namun, semua tes yang diikuti belum membuahkan kelulusan. Dirinya sempat berpikir jika tes CPNS hanya bagi orang-orang yang beruntung meskipun tidak memiliki kualitas dan potensi yang mumpuni.

“Ikut tes CPNS sudah empat kali, cuma belum lulus. Sempat berpikir kalau orang-orang yang ikut tes CPNS dan lulu itu orang beruntung yang belum tentu memiliki kualitas dan kompetensi,” ujarnya kepada Republika di Kota Mataram, Senin (23/11).

Ia yang kini mengajar di TK Tunas Bangsa, Lombok Tengah mengaku tetap akan mengajar meski tes CPNS yang diikuti selalu gagal lulus. Apalagi, status guru honorer yang diakuinya tidak memiliki pendapatan yang besar. Sebab, baginya, mengajar merupakan kewajiban dan bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, dengan gaji perbulan yang hanya Rp 350 ribu, beban kerja guru honorer bisa sama dengan guru PNS bahkan kadangkala lebih banyak.  Baginya, hidup guru honorer sangat jauh dari kesejahteraan.

“Kalau lihat gaji, kita gak dapat apa-apa. Sekedar untuk bensin saja sangat jauh sekali. Paling besar gaji guru honorer Rp 350 ribu. Kalau sekarang di TK hanya Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, guru honorer yang baru mengajar tahun ini kondisinya lebih mengkhawatirkan. Sebab, kegiatan mengajar tidak diberikan fasilitas gaji. Banyak dari guru honorer sengaja mengajar sambil menunggu tes seleksi CPNS atau pun berharap segera diangkat. Bahkan, menjadi guru honorer agar tidak dianggap menganggur.

Dirinya berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan para guru honorer. Sebab, meskipun beberapa kali gagal mengikuti seleksi tes CPNS bukan berarti kualitas dan potensi yang dimiliki lebih rendah dari guru yang berstatus PNS.

“Kurang sekali perhatian dari pemerintah. keinginan saya bisa diangkat menjadi PNS,” ungkapnya.
Uswatun mengatakan sudah 5 tahun menjadi guru honorer sejak 2010, dimulai mengajar sebagai guru honorer di SD 10 Kota Mataram serta di SMA di Kota Mataram , masing-masing satu tahun. Serta di IKIP Mataram mencapai 2 tahun lebih.

Dirinya mengaku mengajar di ketiga tempat secara bersamaan. Namun, aktivitas mengajar di IKIP akhirnya ditinggalkan karena kebijakan S1 tidak boleh mengajar kecuali S2. Sementara, kegiatan mengajar di SD dihentikan sebab terkendala dengan transportasi. Hingga akhirnya, kini mengajar di salah satu TK Swasta di Lombok Tengah.
 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA