Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

PT Austasia Stockfeed Impor Seribu Sapi Indukan

Kamis 19 Nov 2015 23:58 WIB

Red: Mansyur Faqih

Sapi

Sapi

Foto: ist

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Austasia Stockfeed, anak usaha PT Santosa Agrindo (Japfa Group) merealisasikan impor seribu ekor sapi indukan dari Australia pada akhir November 2015. Impor dilakukan guna meningkatkan kapasitas pembiakan sapi Wagyu yang sudah dikembangkan sejak 2012. 

Hingga akhir November, Santori adalah satu-satunya perusahaan di Indonesia yang melakukan impor sapi indukan. Tingginya biaya impor indukan sapi dan juga mahalnya biaya budidaya pembiakan sapi potong membuat tidak banyak perusahaan yang bersedia melakukan impor indukan. 

"Santori bisa merealisasikan impor sapi indukan tersebut karena adanya dukungan pemerintah, terutama dari Pak Muladno, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan," ujar Safuan K Suwondo, Country Head Indonesia of Beef Division Japfa.

Berkat dukungan pemerintah untuk menyederhanakan protokol kesehatan hewan impor sapi indukan, masa karantina di negara asal berkurang dari 14 hari hanya menjadi tujuh hari. Pengurangan masa karantina tersebut berdampak secara langsung pada penurunan biaya karantina dan pemeriksaan hewan sapi indukan impor dari 220 dolar AS per ekor menjadi hanya 50 dolar AS per ekor. 

"Meskipun biaya sudah turun, pengenaan bea masuk atas impor sapi indukan masih menjadi beban yang cukup berat. Bea masuk untuk sapi indukan sebesar lima persen. Jika berat sapi indukan sebesar 300 kg maka bea masuknya mencapai Rp 600 ribu per ekor. Ini masih menjadi PR bagi pemerintah jika ingin meningkatkan impor indukan," lanjutnya.

Meskipun harga impor sapi indukan sudah menurun namun biaya untuk melakukan usaha budidaya pembiakan tidak serta merta mengikuti. Sistem pembiakan sapi potong dengan model sapi dikandangkan, yang umumnya dilakukan di Indonesia karena minimnya lahan, merupakan penyebab utama tingginya biaya produksi. 

Tingginya biaya produksi tersebut disebabkan karena pakan harus disiapkan secara cut and carry dan bukan dengan sistem merumput (penggembalaan). "Untuk memproduksi satu ekor sapi dari membuntingkan induk hingga anak lahir dan menjadi sapi siap potong membutuhkan biaya sekitar Rp 17,250 juta dengan berat akhir sapi sekitar 370 kg," ujar Dayan Antoni, Head of Breeding Santori. 

Tingginya biaya produksi serta risiko dan panjangnya jangka waktu untuk melakukan pembiakan menjadi penyebab utama rendahnya minat pengusaha melakukan breeding sapi. Padahal salah satu dukungan agar swasembada sapi dapat dipenuhi dengan produksi sapi bakalan dalam negeri adalah dengan melakukan pembiakan sapi dalam skala ekonomi yang besar dan efisien.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA