Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Hati-Hati, Pria Gampang Marah Berisiko Meninggal Lebih Cepat

Senin 02 Nov 2015 06:26 WIB

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Indira Rezkisari

Jadilah pria yang bahagia agar hidup Anda lebih panjang.

Jadilah pria yang bahagia agar hidup Anda lebih panjang.

Foto: pixabay

REPUBLIKA.CO.ID, Ada berbagai sebab memicu seseorang menjadi marah. Bisa jadi karena menghadapi kemacetan lalu lintas, disalip orang lain saat menunggu antrean yang panjang, atau bisa juga karena sebab-sebab yang lainnya.

Begitu banyak alasan yang membuat seseorang naik darah. Namun demikian, setidaknya ada satu alasan tepat yang mesti diingat kaum pria agar tidak gampang marah.

Sebuah laporan penelitian terbaru menyebutkan, lelaki yang sering marah memiliki risiko kematian dini lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang marah. Dalam satu studi yang dilakukan tim dari Universitas Negeri Iowa di AS, para peneliti mengumpulkan data dari 1.307 pria selama hampir 40 tahun. Hasilnya, sekitar 25 persen dari pria yang gampang marah ditemukan lebih berisiko meninggal lebih awal 1,57 kali dibandingkan dengan orang-orang yang sedikit marahnya.

Tingkat kemarahan para partisipan awalnya diukur setiap tahun antara 1968-1972. Mereka diminta menjawab sejumlah pertanyaan sederhana seperti ‘Apakah Anda mudah marah?’ atau ‘Seberapa sering Anda marah?’. “Semakin banyak para peserta menjawab ‘ya’, memiliki korelasi dengan peningkatan risiko kematian dini,” ungkap salah satu peneliti, Amelia Karraker, dalam laporannya, seperti dilansir Guardian.

Ia menjelaskan, usia rata-rata partisipan pria yang dilibatkan pada awal penelitian tersebut adalah di bawah 30 tahun. Akan tetapi, efek dari kebiasaan marah mereka bisa dilihat pada peningkatan risiko kematian hingga 35 tahun kemudian. Hasil penelitian itu sendiri baru saja diterbitkan awal pekan lalu.

Penelitian tersebut, kata Amelia lagi, bukan sekadar membicarakan soal kemarahan yang kadang-kadang muncul selama lima tahun. Namun lebih bertujuan untuk mengungkap konsistensi kemarahan partisipan selama menjalani hidupnya.Menurut Amelia, tidak sulit membayangkan bagaimana kebiasaan marah seseorang bisa memicu peningkatan denyut jantung dan tekanan darah dari waktu ke waktu, yang pada akhirnya bisa memengaruhi kondisi jantungnya.

Akan tetapi, kata Amelia lagi, beberapa studi justru ada yang menunjukkan bahwa memendam amarah ternyata juga dapat meningkatkan tekanan darah dan penyakit jantung, terutama ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil. “Jadi, sekarang persoalan yang mesti dituntaskan adalah, bagaimana semestinya kita mengekspresikan kemarahan dengan cara yang benar? Namun demikian, kami tetap pada kesimpulan bahwa meluapkan kemarahan lebih banyak mendatangkan bahaya dibandingkan yang manfaat,” ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA