Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Ini Hukum Cabut Bulu Kaki dalam Tinjauan Syariat Islam

Rabu 28 Oct 2015 04:45 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Kaki tidak boleh ketinggalan untuk dirawat. Memanjakan kaki tidak hanya menyenangkan tapi juga membuatnya sehat.

Sebulan sekali setidaknya lakukan perawatan kaki atau pedikur di rumah.

Foto: flickr

 

Dalam buku Majmu’ah As’ilah Tahummu al-Usrah al-Muslimah karyanya disebutkan, bulu kaki termasuk ciptaan Allah SWT yang tak boleh diubah-ubah. Terkecuali, jika bulu betis dan paha wanita tersebut sangat lebat hingga menyerupai laki-laki. Ia membolehkan untuk mencabutnya litakhalluf (untuk berbeda) dengan laki-laki.

Soal proses waxing yang seperti ini, Al-Utsaimin menegaskan agar wanita tersebut bisa melakukannya sendiri atau meminta bantuan suami. Al-Utsaimin tak memperbolehkan bagi wanita untuk memakai jasa waxing dari salon-salon kecantikan.

Para ulama yang mengharamkan waxing untuk bulu kaki juga mengkaji akibat yang ditimbulkannya. Pelaku waxing pada bagian yang tidak tergolong sunnah fitrah biasanya banyak terkena iritasi kulit dan kanker.

Penyebabnya, polusi dan partikel partikel bebas di udara dan produk kimia dapat cepat masuk kedalam tubuh yang seharusnya diproteksi rambut rambut halus pada kaki. Tentu saja, menjatuhkan diri dalam kebinasaan adalah haram hukumnya. (QS al-Baqarah [2]: 195).

Selain itu, pendapat ulama yang membolehkan berpendapat bahwa qiyas mencabut bulu kaki bagi wanita dekat qiyasnya dengan mencabut atau mencukur bulu ketiak dan bulu kemaluan. Illat keduanya sama, yakni sama-sama bertujuan untuk kebersihan dan kecantikan diri.

Jika mencabut bulu ketiak agar bersih, terhindar dari bau, dan terlihat cantik, maka demikian pula illatnya dengan bulu kaki. Kalaupun qiyas ini tidak diterima, maka kasus waxing untuk bulu kaki ini tergolong pada kategori hukum "ma suqutu 'anhu" (sesuatu yang hukumnya boleh karena didiamkan atau dimaafkan).

Berdalil dengan hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan, apa saja yang Allah SWT diam darinya, maka itu diampuni. Bulu ketiak dan kemaluan secara tegas diperintahkan untuk dihilangkan. Sedangkan alis mata serta jenggot bagi laki-laki, secara tegas pula dilarang untuk dihilangkan.

Adapun bulu kaki, item ini tidak tercantum dalam hadis Nabi SAW. Maka jadilah ia sebagai perkara "ma suqutu 'anhu". Hukum asalnya boleh dilakukan selama tidak ditemui dalil yang melarangnya. Demikian seperti diterangkan dalam fatawa al-Mar’ah (1/310).

Wallahu'alam...

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA