Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

IHSG Menurun, Pasar Berharap pada Perbaikan Bursa Global

Senin 28 Sep 2015 11:44 WIB

Rep: Risa Herdahita Putri/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Layar menunjukan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Jumat (18/9).

Layar menunjukan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Jumat (18/9).

Foto: Republika/ Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini, Senin (28/9), kembali tertekan sejauh 1,356 persen atau 57,088 poin pada pukul pukul 09.44 WIB. IHSG kini berada di level 4.152,351.

IHSG tertekan oleh sepuluh indeks saham sektoral yang bergerak melemah. Indeks aneka industri mengalami penurunan paling signifikan sejauh 3,462 persen. Setelahnya, ada indeks saham sektor manufaktur yang turun 2,227 persen.

Dengan ini, IHSG melanjutkan pelemahan pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Terkoreksinya indeks saham pekan lalu menandai koreksi dalam tiga hari perdagangan berturut-turut, yang ditutup di level 4209,439 atau melemah 34,988 poin (0,82 persen).

Selama sepekan kemarin, IHSG koreksi hingga 3,9 persen. Ini menyusul meningkatnya risiko capital outflow dan depresiasi rupiah atas dolar AS yang sudah menembus Rp14.700 akhir pekan lalu. Sementara, berdasarkan kurs Bank Indonesia (BI) nilai tukar rupiah atas dolar AS akhir pekan lalu di Rp 14.690 atau koreksi 1,57 persen selama sepekan.

Seiring tren depresiasi rupiah atas dolar AS, arus dana asing yang keluar dari pasar saham terus berlanjut. Akhir pekan kemarin, nilai penjualan bersih asing di pasar saham mencapai Rp 520,76miliar. Selama sepekan terakhir penjualan bersih asing mencapai Rp 2,04triliun melanjutkan pekan sebelumnya uang sebesar Rp 1,67 triliun.

"Koreksi IHSG dan pelemahan lanjutan rupiah atas dolar AS pekan kemarin terutama dipicu meningkatnya kekhawatiran risiko perekonomian domestik menyusul memburuknya perkembangan ekonomi kawasan terutama ekonomi China," jelas Analis Saham First Asia Capital, David Sutyanto dalam risetnya, Senin (28/9).

Data aktivitas manufaktur Cina September ini memang kembali mengindikasikan terjadinya kontraksi pertumbuhan manufaktur di negara itu. Indeks Flash Manfacturing China turun ke 47,0 dari bulan sebelumnya 47,3.

Namun, pergerakan bursa global akhir pekan lalu yang cenderung membaik diharapkan bisa meredahkan tekanan jual di pasar pada perdagangan hari ini. "IHSG diperkirakan bergerak bervariasi dengan support  4.185 dan resisten di 4.250, berpeluang rebound terbatas," lanjut David.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA