Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Tradisi Perang Dawet Jadi Atraksi Wisata Kudus

Rabu 09 Sep 2015 10:36 WIB

Red: Indira Rezkisari

Dawet atau cendol merupakan salah satu bagian tradisi di Kudus yang kini dikemas menarik agar menarik pula minat wisatawan.

Dawet atau cendol merupakan salah satu bagian tradisi di Kudus yang kini dikemas menarik agar menarik pula minat wisatawan.

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, Tradisi "perang dawet" atau minuman sejenis cincau (cendol) di Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya merupakan ritual meminta turun hujan diarahkan menjadi salah satu tujuan wisata di daerah setempat.

"Untuk itu, tradisi perang dawet yang digelar kemarin (8/9) dikemas lebih menarik dibanding tahun sebelumnya," kata Kepala Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo Tri Elis Susilowati ditemui di usai penyelenggaraan tradisi perang dawet di lapangan desa setempat, di Kudus, Selasa.

Pada tahun lalu, kata dia, tidak ada pameran UMKM, sedangkan tahun ini diadakan pameran dengan menyediakan 12 gerai UMKM.

Dengan adanya pameran UMKM, diharapkan bisa menarik minat wisatawan, khususnya wisatawan lokal Kudus. Terlebih lagi, lanjut dia, Desa Tanjungrejo juga mempersiapkan diri menjadi desa rintisan wisata. Hasilnya, kata dia, antusiasme pengunjung cukup tinggi untuk menyaksikan tradisi perang dawet tersebut.

Ritual perang dawet tersebut, diawali dengan kirab budaya yang diikuti ratusan warga dari 54 rukun tetangga (RT) di desa setempat. Setiap peserta kirab, katanya, menampilkan potensi wilayahnya masing-masing, seperti kerajinan pandai besi, hasil bumi, rebana, dan usaha krupuk.

Usai menggelar kirab, masyarakat desa setempat memperebutkan gunungan yang berisi hasil bumi masyarakat desa setempat usai mengikuti ritual keagamaan yang dipimpin pemuka agama setempat. Selanjutnya, dilakukan penyiraman minuman dawet yang merupakan campuran santan, air gula jawa dan cendol kepada masyarakat yang berada di dekat panggung utama.

Berdasarkan cerita orang tua, kata dia, perang dawet tersebut merupakan tradisi yang sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu, terutama saat berdirinya Pabrik Gula di Kudus yang saat ini pindah ke Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus.

Sebelum pindah ke Desa Rendeng, katanya, pabrik gula yang saat ini dikenal dengan PG Rendeng dibangun di Desa Tanjungrejo. Untuk mengingatkan kembali tradisi minta turun hujan tersebut, katanya, pemerintah desa setempat sepakat mengadakan ritual minta turun hujan tersebut bertepatan dengan sedekah bumi.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA