Thursday, 25 Syawwal 1443 / 26 May 2022

Menjadi Tamu Allah SWT di Baitullah

Selasa 08 Sep 2015 05:32 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Calon haji khusus sedang manasik

Calon haji khusus sedang manasik

Foto: antaranews

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Anggito Abimanyu

Menjadi tamu Allah SWT dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, menjalankan ibadah haji atau umrah dan mengunjungi rumah Allah SWT, Baitullah, Ka’bah Al-Musyarafah. Kedua, dengan cara meninggal.

Pakaian yang dikenakan saat menjadi tamu Allah, baik dengan cara pertama ataupun cara kedua, adalah sama. Kedua cara dilakukan dengan mengenakan pakaian putih tanpa jahitan (kafan), kecuali Muslimah yang mengenakan pakaian berjahit saat berhaji.

Jamaah haji atau umrah berkunjung ke Baitullah di Makkah diyakini atas undangan Allah SWT, baik secara langsung ataupun melalui cara lain. Mereka datang ke Baitullah sambil melantunkan kalimat Talbiyyah.

Selama di Baitullah untuk umrah, yang pertama kali dikerjakan adalah melakukan tawaf, sa’i dan tahalul. Tawaf  adalah berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali putaran. Seusai tawaf, jamaah  shalat sunnah  dua  rakaat di belakang Maqam Ibrahim, salah satu tempat yang mustajab di Masjidil Haram.

Sedangkan sa’i ialah berjalan dari bukit Safa ke bukit Marwah dan sebaliknya, sebanyak tujuh kali yang berakhir di bukit Marwah. Selesai sa’i diikuti dengan prosesi tahalul. yang ditandai dengan mencukur atau menggunting beberapa (paling sedikit tiga) helai rambut.

Puncak tertinggi dari tingkatan orang bertamu ke Baitullah adalah saat  menunaikan ibadah haji.

Berhaji berarti manusia atau makhluk bertamu kepada Allah, Sang Khalik, Yang Maha Pencipta. Selama periode yang cukup lama, jamaah berkunjung ke rumah Allah SWT dan tempat-tempat yang mustajab lainnya. Itulah sebabnya, orang berhaji disebut juga sebagai dhuyufur rahman, tamunya Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA