Selasa, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 Januari 2020

Selasa, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 Januari 2020

Benarkah Gus Mus Sudah tak Ingin Lagi Pimpin NU?

Selasa 04 Agu 2015 09:52 WIB

Rep: Andi Nurroni/ Red: Bilal Ramadhan

 A Mustofa Bisri (Gus Mus) melukis kaligrafi pada pembukaan pameran lukisan dan puisi 'Lima Rukun' di Studio Jeihan, Bandung, Sabtu (28/9). (Republika/Edi Yusuf)

A Mustofa Bisri (Gus Mus) melukis kaligrafi pada pembukaan pameran lukisan dan puisi 'Lima Rukun' di Studio Jeihan, Bandung, Sabtu (28/9). (Republika/Edi Yusuf)

REPUBLIKA.CO.ID, JOMBANG -- Pesan mengharukan Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlathul Ulama (PBNU) Mustofa Bisri atau Gus Mus, Senin (3/8) berhasil meredakan perdebatan yang sangat kontradiktif di antara para peserta Muktamar ke-33 NU di Jombang.

Meski begitu, dalam pesannya, terselip pernyataan seolah ia tidak ingin lagi melanjutkan perannya sebagai pemimpin tertinggi ormas Islam terbesar di Indonesia itu. Dengan nada haru dan cucuran air mata, Gus Mus merasa tugas yang diembannya terlampau berat untuk ia tanggung.

"Rais Aam yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini, KH Sahal Mahfud. Mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini. Saya pinjam telinga anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya," ujar Gus Mus di depan ribuan muktamirin di alun-alun Jombang, Senin (3/8).

Tak hanya itu, ketika menawarkan solusi alternatif hasil rembug dia dengan para kiai sepuh, ia pun kembali memohon doa agar ia tidak lagi terpilih sebagai Rais Aam Syuriah PBNU.

"Dan tatib yang sudah disepakati perlu segara dilakukan. Kalau ini Anda tetap tidak terima, maka saya yang terima. Karena saya hanya Mustafa Bisri, saya hanya orang yang ditimpa kecelakaan menjadi pengganti Kiai Sahal. Kalau tidak, lepaskan saya saja. Doakan mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Aam," kata dia.

Usulan yang disampaikan Gus Mus adalah soal mekanisme pemilihan Rais Aam PBNU. Sebelumnya, sikap muktamirin terpecah, antara antara opsi memilih melalui muswarah para kiai atau melalui pemungutan suara seluruh delegasi pengurus wilayah maupun cabang.

Ia menawarkan, musyawarah akan dilakukan terbatas di kalangan para rais syuriah, dan bila tidak menghasilkan keputusan, akan dilakukan pemungutan suara oleh para rais syuriah. Di mintai tanggapan, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menganggap ekspresi Gus Mus di hadapan para muktamirin bentuk ketulusan dan kerendahan hati dia.

Menurut Aqil, itu menunjukan bahwa Gus Mus sangat tulus mengemban tanggung jawab sebagai pucuk pimpinan NU. Meski begitu, menurut Kiai Aqil, ungkapan itu bukan berarti sebuah keputusan final. "Itu kan beliau cuma minta didoakan, agar sampai di sini," kata dia.

Gus Mus terpilih pada 2014 menggantikan Rais Aam Syuriah PBNU KH Sahal Mahfudz yang meninggal sebelum menyelesaikan jabatannya. Dalam Muktamar ke-33, ia dijagokan untuk mengemban jabatan tersebut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA