Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Inflasi Juli Diperkirakan 0.75 Persen

Selasa 21 Jul 2015 16:15 WIB

Red: Esthi Maharani

Inflasi

Inflasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Standard Chartered Bank, Eric Sugandi memperkirakan inflasi Juli 2015, yang bertepatan dengan Idul Fitri 1436 Hijriah, sebesar 0,75 persen secara bulan ke bulan dan 7,1 persen secara tahun ke tahun.

Eric mengatakan tekanan inflasi yang tidak terlalu tinggi selama Ramadhan dan Lebaran, karena permintaan dan daya beli masyarakat masih rendah.

Di sisi lain, intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga-harga kebutuhan pokok turut andil dalam meredam inflasi, yang biasanya selalu naik pada saat Ramadhan dan Lebaran.

"Tekanan inflasi masih ada, 'seasonal'. Namun, tidak terlalu tinggi karena melemahnya permintaan masyarakat," ujarnya, Selasa (21/7).

Perkiraaan inflasi Juli 0,75 persen (mtm) ini menunjukkan peningkatan indeks harga konsumen yang tidak terlalu signifikan dibanding inflasi Juni yang tercatat 0,54 persen. Sedangkan, jika dibandingkan Ramadhan dan Lebaran 2014, yang juga jatuh pada Juli, inflasi saat itu tercatat 0,93 persen (mtm).

Perbedaannya adalah Lebaran 2015 jatuh di pertengahan Juli, sedangkan Lebaran 2014 dirayakan di akhir Juli, dimana akan sangat mempengaruhi periode kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dalam perhitungan inflasi.

Lebih lanjut, Eric menjelaskan, tendensi masih lemahnya permintaan masyarakat pada Lebaran 2015 ini harus dicermati pemerintah. Tendensi ini, kata dia, mencerminkan bahwa lesunya konsumsi masyarakat telah terjadi berkepanjangan. Oleh karena itu, lanjut Eric, pemerintah harus serius untuk "mengebut" realisasi program dan proyek dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara - Perubahan (APBN-P) 2015. 

Belanja negara dalam APBN-P mencapai Rp1.984 triliun, termasuk belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.319 triliun. Di dalam belanja pemerintah pusat, ada belanja modal untuk infrastruktur yang terbesar dalam lima tahun terakhir, yakni senilai Rp290,3 triliun.

"Jika eksekusi terus lambat, akan susah lagi. Karena proyek dan program harus direalisasikan untuk menciptakan lapangan kerja," ujarnya.

Selain itu, menurut Eric, faktor lesunya harga komoditas telah menggerogoti pendapatan masyarakat di daerah, terutama daerah yang penggerak ekonominya mengandalkan sektor komoditas.

Maka dari itu, lanjutnya, pemulihan harga komoditas di pasar global akan sangat berimbas positif bagi daya beli masyarakat.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA