Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

 

Tradisi 'Ngejot' Idul Fitri di Bali (1)

Sabtu 18 Jul 2015 12:34 WIB

Red: Agung Sasongko

Muslim Bali

Muslim Bali

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Bali mewarisi tradisi dan budaya masyarakat setiap perayaan Idul Fitri yakni "ngejot", yaitu memberikan menu makanan, kue dan buah-buahan kepada sahabat dan warga lintas agama yang tinggal di pemukiman sekitarnya.

Umat Hindu yang menerima menu makanan tersebut akan membalasnya pada Hari Raya Galungan, hari raya besar dalam memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan). "Tradisi dan budaya itu hingga sekarang masih tetap lestari, baik di desa maupun perkotaan di Pulau Dewata," tutur Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali H M Taufik As'Adi S AG (67).

Pria kelahiran Cilacap yang bermukim di Bali lebih dari setengah abad itu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, karena tugasnya sebagai seorang pendidik (guru) melihat kehidupan umat lintas agama sangat akrab satu sama lainnya.

Kondisi demikian itu telah diwarisi secara turun temurun sejak ratusan tahun silam, berkat adanya saling mengertian dan menghormati satu sama lainnya. Tredisi "ngejot bagi komunitas muslim di perdesaan menunjukkan adanya kekerabatan yang begitu akrab dengan umat lainnya yang beragama Hindu maupun agama lainnya.

Umat Islam bermukim di daerah perdesaan sejak zaman kerajaan di Pulau Bali antara lain di Desa Pegayaman Kabupaten Buleleng, Budakeling, Kabupaten Karangasem, Petang, Kabupaten Badung, Kepaon, Serangan, Kota Denpasar dan Desa Loloan di Kabupaten Jembrana.

Hal itu mencerminkan keakraban dalam kehidupan sehari-hari, yang secara tidak langsung memberikan dampak positif dalam memantapkan kerukunan hidup beragama yang telah dapat diwujudkan selama ini. Umat Islam di Bali juga telah berbaur dengan budaya setempat, terlihat dari lembaga adat yang tumbuh di masyarakat muslim Bali sama dengan lembaga adat masyarakat Bali Hindu.

Komunitas muslim yang bergelut dalam bidang pertanian juga menerapkan sistem pengairan subak, pola pengaturan air seperti yang dilakukan petani beragama Hindu, meskipun cara mensyukuri saat panen berbeda, sesuai kepercayaan dan agama yang dianut.

Umat Islam yang mengolah lahan pertanian antara lain di Subak Yeh Sumbul, Medewi, Pekutatan, dan Subak Yeh Santang, Kabupaten Jembrana, daerah ujung barat Pulau Bali, menerapkan sistem pengairan secara teratur seperti umumnya dilakukan petani Pulau Dewata.

Adanya unsur kesamaan antara Islam dan Hindu, termasuk terpeliharanya tradisi "ngejot" dapat dijadikan tonggak lebih menciptakan kemesraan dan tali persaudaraan antara Hindu dan Islam, termasuk umat lain di Pulau Dewata, ujar mantan Kepala Bidang Bimas Islam Kementerian Agama Provinsi Bali.

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA