Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

 

Budaya Halal bi Halal Milik Muslim Indonesia

Sabtu 18 Jul 2015 07:08 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

Halal bi halal dengan Dubes RI Tosari Widjaya

Halal bi halal dengan Dubes RI Tosari Widjaya

Foto: Kusnadi El Ghezwa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Prof Abdurrahman Mas'ud menyatakan, ajaran halal bihalal merupakan milik umat muslim Indonesia dan tak ditemukan dalam dunia Islam lainnya, karena itu tradisi tersebut diharapkan dapat ditegakkan secara berkesinambungan dan konsisten.

         

Harapan tersebut disampaikan Abdurrahman Mas'ud pada khutbah Idul Fitri, Jumat (17/7) di Masjid Agung At-Tin Jakarta. Sangat ironis jika halal bihalal yang unik, sekadar dilanggengkan sebagai seremoni tanpa arti, yang berjalan tiap tahun tanpa adanya kemajuan apapun.

        

"Apa yang bisa kita dapatkan dari halal bi halal ini? Inilah pertanyaan penting yang harus kita kemukakan pada diri sendiri,¿ kata Mas'ud dalam khutbahnya.

          

Hadir pada shalat Idul Fitri tersebut keluarga besar almarhum Soeharto dan Ketua Dewan Pengurus Masjid Agung At-Tin, Muhammad Maftuh Basyuni.

         

Ia mengatakan, apabila Idul Fitri dan halal bihalal kehilangan ruh dan substansi, maka budaya formalistik, seremonial, ritualistik, agaknya belum mampu berjalan seirama dengan ajaran dasar agama dan etika sosial masyarakat Indonesia.

         

Sebuah penelitian antropologi baru-baru ini, kata mantan Ketua ICMI Los Angeles AS (1992-1995) ini, membuktikan selama tiga dekade terakhir, ajaran hablum minannas (human relation) tidak populer.

Sebaliknya, ajaran hablum minallah pada dasarnya merupakan wajah utama keberagaman muslim Indonesia yang hampir-hampir tidak berhubungan dengan hablum minannas.

        

Kesemarakan beragama mengalahkan kekhusyukan beragama. Religiusitas masih sering larut dalam floating mass (massa mengambang) yang lebih mementingkan simbol daripada makna. Karena kondisi sosial ini pula aneka pendekatan yang ada selalu karikatif dan tidak memiliki jangkauan strategis ke depan.

"Kita patut risau lantaran sisi humanisme dalam agama masih jauh dari perhatian umat beragama di Indonesia. Inilah pekerjaan rumah kita bersama kaum Muslimin di mana berada," katanya mengingatkan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA