Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

'Apa Arti Rangking Dunia Jika Masyarakat tak Mampu Baca Tulis'

Selasa 14 Jul 2015 08:05 WIB

Rep: C13/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Kampus Universitas Indonesia (UI)

Kampus Universitas Indonesia (UI)

Foto: id.wikipedia.org

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengamat Pendidikan dari Universitas Gajah Mada (UGM), Darmaningtyas menyatakan, konsep perangkingan Perguruan Tinggi (PT) masih diperdebatkan. Hal ini dinyatakannya mengingat terdapat beberapa lembaga yang telah merilis rangking universitas-universitas terkemuka di dunia.

“Konsep perangkingan itu sendiri masih debatable,” ungkap Darmaningtyas saat dihubungi Republika, Senin (13/7). Menurut dia, kriteria penilaian tidak sepenuhya sama dengan keadaan sebenarnya di lapangan di setiap negara.

Darmanigtyas juga mengaku masih mempertanyakan konsep penilaian sejumlah lembaga perangkingan. Misal, dia menerangkan, konsep dasar perankingan yang dipakai oleh Webometrics. Menurutnya, lembaga ini menilai dari jurnal ilmiah yang dipublikasikan melalui website universitas-universitas di dunia.

Dengan konsep tersebut, menurut Darmaningtyas, negara-negara yang memiliki tradisi baca-tulis dan jaringan internet kuat jelas memiliki peluang untuk di tampil di rangking teratas. Namun, kata dia,  universitas di negara-negara yang memiliki keterbatasan tentu akan berada di urutan terbawah.

Mengetahui konsep penilaian tersebut, Darmaningtyas menila hal itu mungkin tidak akan mengakibatkan masalah jika menjadi referensi untuk melakukan perbaikan. Namun, kata dia, apabila menjadi dasar penentu kebijakan, maka hal ini jelas akan menyesatkan. Pasalnya, terang dia,  kebutuhan Indonesia berbeda dengan kebutuhan negara-negara maju.

“Apalah artinya mampu menulis di jurnal internasional, sementara sebagian masyarakatnya tidak mampu baca tulis? Apalah artinya ranking dibandingkan kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat?” tegas Darmaningtyas.

Untuk saat ini, dia menyatakan, pencerdasan masyarakat di pelosok negeri ini sangat dibutuhkan. Menurut dia, tujuan tersebut jauh lebih penting untuk dijalankan PTN/PTS di Indonesia dibandingkan mengejar rangking dunia.

Sebelumnya, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohammad Nasir mengungkapkan keinginan besarnya perihal Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia. Menurutnya, pihaknya memiliki target tujuh PTN di Indonesia bisa masuk ke dalam daftar 500 Top PT dunia pada 2019.

“Kita memiliki target pada 2019, tujuh PTN di Indonesia bisa masuk ke dalam daftar 500 Top PT terbaik dunia,” ujarnya kepada wartawan, Ahad (28/6).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA