Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Personel Militer Asal Queensland Paling Banyak Alami Gangguan Kesehatan Mental

Senin 22 Jun 2015 22:00 WIB

Red:

 Masih banyak stigma terhadap personel militer yang menderita gangguan kesehatan mental dan hal itu sering membuat mereka enggan mencari pertolongan.

Masih banyak stigma terhadap personel militer yang menderita gangguan kesehatan mental dan hal itu sering membuat mereka enggan mencari pertolongan.

Foto: abc news

REPUBLIKA.CO.ID, QUEENSLAND -- Sebuah data terbaru menunjukkan personel Angkatan Pertahanan Australia yang berasal dari Queensland tercatat paling banyak menjalani rehabilitasi terkait masalah gangguan kesehatan mental yang mereka derita. Sepanjang tahun anggaran 2014 lalu, sebanyak 813 orang personel militer Australia menjalani rehabilitasi setelah didiagnosa menderita gangguan kesehatan mental.

 
Dari angka tersebut, sebanyak 308 personel berasal dari Queensland,  dan mayoritasnya adalah personel Angkatan Darat. Hampir setengah dari personel militer pria dan wanita tersebut kembali bertugas ke kesatuannya masing-masing pasca menjalani rehabilitasi.
 
Psikolog senior dari lembaga amal veteran Mates4Mates, Janice Johnston, mengatakan ini merupakan pertanda kalau saat ini semakin banyak personil tentara yang mencari bantuan untuk mengatasi isu terkait kondisi kesehatan mental mereka.
 
Menurutnya pakar kesehatan mental harus berhadapan dengan sejumlah tantangan ketika merawat personel militer yang menderita gangguan kesehatan mental.
 
"Ini bukan masalah yang sederhana, dan gangguan kesehatan mental pasca trauma atau PTSD kerap datang dengan hal lain yang berkaitan dengan kondisi trauma tersebut yang membuat pasien PTSD semakin sulit ditangani," katanya.
 
Seorang veteran Perang Afghanistan,  Matthew Campbell, terluka oleh peledak yang dimodifikasi pada tahun 2011 lalu dan didiagnosa menderita PTSD.
 
"PTSD ini awalnya saya derita ketika saya masih bertugas di Angkatan Darat," tuturnya.
 
"Awalnya saya menduga saya memiliki masalah dengan emosi yang meledak-ledak, tapi saya juga menyadari ada hal lain yang terjadi pada diri saya,"
 
Campbell mengatakan hingga kini masih ada stigma terhadap personil militer yang menderita gangguan kesehatan mental dan stigma ini sering membuat mereka enggan mencari pertolongan.
 
Karenanya dia mendorong rekan-rekannya untuk berani mengungkapkan isu gangguan kesehatan mental yang mereka alami.
 
"Jangan pernah berpikir hanya Anda sendiri yang mengalaminya, karena Anda tidak pernah sendiri,' tegasnya.
 
"Saya memperkirakan ada ribuan orang saat ini yang berjuang sendirian menghadapi masalah kesehatan mentalnya,"
 
Johnston mengatakan saat ini situasinya semakin membaik, namun masih butuh waktu lama untuk mengatasi masalah ini sepenuhnya.
 
"Berbicara lebih banyak tentang gangguan kesehatan mental di kalangan personil militer tidak otomatis membantu mengurangi stigma tersebut, tapi masih ada banyak stigma di sekeliling kita terhadap mereka yang mengaku Saya memiliki masalah kesehatan mental," katanya.

"Jika dokter memerintahkan Anda untuk menjalani kemoterapi atau meminum jus sayur-sayuran untuk mengobati kanker Anda, maka Anda akan melakukannya, tapi satu hal mengenai PTSD adalah banyak pasien gangguan kesehatan mental yang menghindari saran dari dokter mengobati keluhan mereka."
 
"Jadi orang masih kerap tidak mau melakukan layanan yang dirancang untuk mendukung mereka mengatasi PTSD, hanya karena mereka sangat cemas.
 
"Itu merupakah salah satu penghalang yang sulit mereka lewati, tapi begitu mereka mengikuti sesi rehabilitasi tersebut, mereka akan sangat bersyukur."
 
Angkatan Pertahanan Australia mengatakan personel yang menjalani program rehabilitasi kesehatan mental mendapatkan perawatan berkualitas tinggi yang juga meliputi rehabilitasi pekerjaan mereka.
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA