Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Menhan: Mahasiswa Harus Siap Jadi Duta Pertahanan

Jumat 12 Jun 2015 21:50 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Menhan Ryamizard Ryacudu di kantornya pada Rabu (3/6).

Menhan Ryamizard Ryacudu di kantornya pada Rabu (3/6).

Foto: Republika/Erik PP

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu, mengatakan, mahasiswa harus siap menjadi duta pertahanan di lingkungan bertugas atau sebagai bagian sub sistem dari sistem pertahanan negara Indonesia, bila mencintai NKRI.

"Semua dilakukan agar mahasiswa memiliki rasa cinta yang besar kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menunjukkan moralitas dan karakter kuat dengan memiliki nilai-nilai kebangsaan," kata Menhan Ryamizard dalam kuliah umum di depan ratusan mahasiswa se-Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (12/6).

Menurut dia, mahasiswa harus bangga sebagai bangsa Indonesia, bermanfaat bagi bangsa dan negara. Sebagai generasi harapan pemimpin negeri, mahasiswa harus bisa memegang kepercayaan.

"Mahasiswa jangan hanya berpikir kekayaan dan kekuasaan," ujarnya.

Lebih baik, mahasiswa menjadi generasi pelopor maupun perekat persatuan dan kesatuan dengan berpikir rasional, demokratis, serta kritis dalam menuntaskan masalah kebangsaan.

"Kita harus bangga sebagai warga negara. Ingat, bangsa Indonesia berpotensi menjadi negara besar dan disegani. Apabila kelak jadi pemimpin harus bisa amanah," ujarnya.

Ryamizard juga mendorong, agar kaum muda untuk meningkatkan wawasan kebangsaannya. Hal itu wajib dilakukan karena berdasarkan hasil survei lembaga internasional, didapat wawasan kebangsaan masyarakat menduduki urutan ke-96 dari 105 negara.

Dengan demikian, dirinya optimistis kalau masyarakat mampu meningkatkan disiplin dan rasa cinta Tanah Air maka Indonesia akan menjadi negara maju dan sejahtera.

Dalam kesempatan itu, Menhan mengatakan, di dalam dinamika perkembangan lingkungan strategis terdapat dua ancaman, yakni ancaman militer dan non militer.

Ancaman militer seperti konflik terbuka atau perang, namun ancaman ini tidak nyata. Sementara ancaman nyata, yakni ancaman non militer seperti terorisme dan radikalisme; separatisme; wabah penyakit; pelanggaran perbatasan, perompakan dan pencurian sumber daya; bencana alam; perang siber dan intelijen; serta penyalahgunaan dan peredaran narkoba.

"Ancaman nyata ini harus diwaspadai karena akan berpengaruh pada ketahanan nasional," ujar Menhan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA