Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Minggu, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 Januari 2020

Trik Hadapi Emosi Anak

Selasa 02 Jun 2015 05:50 WIB

Rep: C13/ Red: Indira Rezkisari

Anak menangis (ilustrasi)

Anak menangis (ilustrasi)

Foto: Yogi Ardhi/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Anak-anak merupakan malaikat kecil yang Allah SWT berikan kepada umatnya. Tapi kadang-kadang mereka suka kehilangan kendali atas emosi yang mereka miliki. Sehingga membuat orang tua kewalahan.

Hidup dengan anak-anak memang bukanlah hal yang mudah. Langkah demi langkah, mereka perlu mengeksplorasi dunia ini dan belajar untuk menanggapi segala sesuatu yang baru dan tidak biasa. Mereka membutuhkan waktu untuk membiasakan diri dengan hidup, orang, hubungan, dan aturan. Psikolog menyatakan, anak-anak yang berusia dua hingga lima tahun memiliki jiwa yang sangat rentan dan tidak stabil.
 
Seperti dikutip Womanitely, Selasa (2/6), orang tua harus selalu ingat kalau kesabaran, kemauan, kebijaksanaan, dan kemantapan emosional harus menjadi prioritas utama untuk  Anda. Kualitas ini memberikan orang tua kekuatan untuk tetap tenang pada saat stres.

Mencegah ledakan emosional
Sebagai orang tua, Anda mungkin memiliki hubungan emosional yang erat dengan anak Anda. Sebab, Anda satu-satunya orang yang bisa merasakan emosi mereka dan memahami hampir semua perilakunya.
 
Setiap ibu memiliki kesempatan untuk mengawasi anak-anak mereka dan menganalisa semua yang mereka katakan dan lakukan. Jika Anda melihat bahwa anak Anda bersemangat rendah, Anda harus siap untuk mengambil langkah cepat untuk mencegah mereka menangis.
 
Anda perlu coba untuk memperhatikan gerakan aneh dan bingung pada ekspresi wajah anak. Semua tanda-tanda ini menunjukkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Hal ini meyakinkan bahwa intuisi dan firasat akan membantu Anda mencegah ledakan emosi anak Anda.
 
Untuk bisa melakukannya, Anda harus mengalihkan perhatian mereka dari konflik dan mengarahkan perhatian mereka ke kegiatan lain. Selain itu, Anda juga perlu menunjukkan kepada mereka sesuatu yang indah dan menarik. Atau, bisa juga membiarkan mereka terlibat dalam permainan yang menarik.
 
Hal yang perlu diketahui bahwa nada tegas dan penolakan langsung hanya akan mengintensifkan masalah. Oleh sebab itu, keterampilan diplomatik Anda akan membantu Anda menemukan solusi alternatif.
 
Bertahan
Anak-anak kadang-kadang lebih memilih untuk berpura-pura  agar meyakinkan orang tua bahwa mereka baik-baik saja. Mereka memang masih kecil dan tidak berbahaya, tetapi emosi mereka merupakan senjata yang sangat berbahaya.
 
Pemerasan emosional dan tekanan menjadi strategi terbaik manipulasi yang dilakukan anak. Ini tidak berarti bahwa semua anak itu manipulatif, licik dan berbahaya.
 
Ketika anak Anda mencoba untuk memohon simpatinya, Anda tidak boleh mundur dari sikap yang telah diambil. Cobalah membiarkan mereka untuk mengerti bahwa Anda tidak akan pernah mengikuti selera mereka.
 
Trik yang biasa anak-anak lakukan adalah berperilaku histeris dan malu kepada orang tua ketika mereka di depan orang lain. Maka dari itu,  sengan segala cara, Anda harus tetap berpikiran sama dan tetap bertahan dengan sikap yang telah Anda setujui.
 
Pahami perasaan anak
Orang tua merupakan guru dan panutan bagi anak-anak mereka. Dominasi dan konfrontasi emosional bukan  tujuan, tetapi alat-alat yang membantu orang tua dalam membesarkan anak. Kemudian, membimbing anak untuk memiliki kepribadian yang sehat dan cerdas.
 
Terkadang anak-anak tidak bisa memahami hal yang terjadi pada mereka. Ada begitu banyak perasaan kabur dan kondisi emosional. Bahkan orang dewasa tidak bisa menguasai pikiran dan emosi mereka.
 
Misalnya, jika Anda belum membelikan mereka sesuatu yang menarik di toko, Anda harus siap untuk menghadapi konflik. Kemudian, Anda perlu mencoba menjelaskan kepada anak bahwa tidak mungkin untuk membeli semua mainan dan membuat semua impian sekaligus. Katakan kepada mereka bahwa emosi negatif itu berbahaya dan tidak berguna.
 
Anak-anak memang perlu belajar untuk mengelola perasaan, menerima dan menyadari kenyataan. Dengan demikian, mereka akan menjadi lebih pendiam dan penurut.
 
Hindari hukuman fisik
Hukuman fisik itu bukan cara terbaik untuk mengatasi temperamen buruk anak. Sebab, sikap tersebut sangat menyakitkan dan menyinggung.
 
Strategi hukuman fisik memang menjadi cara termudah untuk menanamkan disiplin dan membuat anak Anda patuh. Tapi ini merupakan sisi gelap yang seharusnya dihindari.
 
Para psikolog mengatakan,  hukuman fisik itu bom waktu yang berbahaya dan dapat menyebabkan keburukan. Hukuman ini dapat mengisi pikiran dan hati anak-anak dengan rasa takut, kebencian dan kecemasan.
 
Oleh sebab itu, jika Anda ingin menghukum anak, cobalah dengan menekan sisi emosionalnya saja. Cobalah untuk mengabaikan sikap buruk anak. Dengan begitu, mereka akan menyadari bahwa upaya mereka menjadi sia-sia.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA