Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

'Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Perlu Dipisah'

Rabu 27 May 2015 13:50 WIB

Rep: C13/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengamat Pendidikan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Nuryati Djihadah meminta agar pemerintah untuk membahas mata pelajaran (mapel) Bahasa dan Sastra Indonesia. Menurutnya, mapel ini harus dipisah menjadi dua, yakni mapel bahasa dan mapel sastra Indonesia.

“Pelajaran bahasa dan sastra Indonesia perlu dipisah menjadi dua mapel,” ungkap Nuryati saat dihubungi ROL, Selasa (25/5). Artinya, terdapat dua guru yang mengajarkan mapel tersebut nantinya.

Nuryati mengaku selalu melihat para guru yang tampaknya tidak bisa menguasai dua bidang tersebut pada mapel bahasa dan sastra Indonesia di tingkat sekolah. Padahal, kata dia, mapel tersebut berada dalam satu kesatuan yang harus dipelajari dan dikuasai oleh para siswa.

Menurut Nuryati, terdapat beberapa guru yang hanya menguasai bidang bahasanya saja. Atau, adapula guru yang lebih memahami bidang sastra dibandingkan bahasanya pada mapel tersebut. Melihat kondisi tersebut, Nuryati berspekulasi hal tersebut tidak seharusnya terjadi.

“Ini tidak boleh terjadi mengingat mapel di sekolah menyatukan kedua bidang tersebut,” tegasnya.

Untuk itu, Nuryati berharap mapel ini bisa dipisah menjadi dua mapel. Dalam hal ini, tambahnya, terdapat dua guru yang memegang mapel tersebut agar lebih terfokus. Sehingga, lanjut dia, hasil dari mapel-mapel tersebut bisa tersalurkan dengan baik kepada para siswa.

Sebelumnya, nilai kompetensi guru bahasa Indonesia di Jawa Tengah jauh di bawah ideal. Balai Bahasa Indonesia Jawa Tengah menunjukkan hasil nilai ujian kompetensi guru bahasa Indonesia yang cukup rendah dengan nilai rata-rata hanya 47.

Kepala Balai Bahasa Indonesia Jateng, Pardi Suranto mengatakan, nilai ideal kompetensi guru bahasa Indonesia di Jateng adalah 80. Menurutnya, hal ini tentu saja akan berdampak pada hasil atau nilai siswa pada mapel tersebut nantinya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA