Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Rohingya dan Kompetisi Kemanusiaan Antarnegara (1)

Jumat 22 May 2015 15:16 WIB

Red: Maman Sudiaman

Ahyudin, pimpinan Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Ahyudin, pimpinan Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Foto: dokpri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahyudin (President ACT Foundation)
 
Tak disangka, pembersihan Muslim Rohingya dari Myanmar yang sudah terjadi bertahun-tahun tak terhentikan, pekan ini memicu kompetisi kemanusiaan berbagai negara. Setiap negara 'adu baik' merespon ribuan manusia perahu yang telah mengguncang nurani umat manusia sedunia.

Bertahun-tahun, Myanmar sukses melenggang dengan seluruh kebijakan dalam negerinya, meskipun dengan begitu ia sudah merepotkan negara-negara tetangganya. Hari ini, tak hanya menyebabkan sejumlah negara Asia Tenggara jadi rikuh, ia juga sukses memperlihatkan performanya sebagai negara pelindung gerakan anti-Muslim. Ashin Wirathu, biksu Myanmar yang menyuarakan kebenciannya terhadap Muslim Rohingya, tetap segar-bugar  di Myanmar tanpa ada kekuatan hukum Myanmar yang menjamahnya meskipun ia sebut Muslim Rohingya sebagai “anjing gila” yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak.  Fakta tak terbantah, pemerintah, para biksu dan masyarakat Myanmar satu pikiran: Myanmar harus bersih dari Muslim Rohingya. Tak ada rasa bersalah atas tindakan mereka menghabisi dan mengusir Muslim Rohingya dari Myanmar.

Anomali  akut menjangkiti kawasan ASEAN. Hubungan diplomatik negara-negara anggota ASEAN adem-adem saja.  KTT ASEAN ke 25 tetap berlangsung di Nay Pyi Taw, Myanmar, 12 November 2014 lalu. Artinya, penghabisan dan pengeyahan beratus ribu Muslim Rohingya yang terus-menerus dari Myanmar,  tidak menjadi sesuatu yang mengusik hati nurani para pemimpin negara ASEAN. Malah, Presiden RI Jokowi menyempatkan melakukan kunjungan  kehormatan kepada Presiden Republik Uni Myanmar U Thein Sein sebelum menghadiri KTT ASEAN ini (Presiden Myanmar saat itu juga sebagai Ketua/Chair ASEAN), memuji Keketuaan Myanmar di ASEAN.

Saat itu (sejak 2012) ACT Foundation saja sampai tujuh kali mengirim Tim Kemanusiaan untuk menyantuni para pengungsi Muslim Rohingya. Kami – ACT Foundation – bisa berkali-kali mengirim Tim bukan karena kami hebat dan mampu, tapi karena gelombang pengungsian terus terjadi, dunia terus menyuarakannya dan masyarakat Indonesia juga terus-menerus memberi dukungan sehingga kami bisa memiliki cukup energi untuk “sekadar” membantu tanpa bisa benar-benar memotong akar penyebab gelombang pembersihan etnis Rohingya itu.

Benar bahwa banyak lembaga kemanusiaan dunia, bergerak mengirim bantuan, tapi itu tidak diikuti langkah signifikan para pemimpin ASEAN untuk menghentikan pembantaian, pengusiran dan tentu saja penghapusan hak Muslim Myanmar. Kematian dan pengusiran massif etnis Rohingya dari Myanmar berjalan bertahun-tahun tanpa terjamah hukum, meskipun terang-benderang dunia menyaksikan betapa banyak eksodus Myanmar lari ke Bangladesh. ACT Foundation hadir sedikit membantu eksodus Myanmar di Cox Bazaar dan Kutopalong tanpa punya daya ketika tiga lembaga kemanusiaan internasional yang beberapa tahun menyantuni pencari suaka dari Myanmar, diusir Pemerintah Bangladesh dengan dalih pemberian bantuan mereka bisa mengundang gelombang pengungsian ke Bangladesh.

Kita sempat khawatir, akankah ASEAN menjadi kawasan yang ‘berdarah dingin’ karena pembiaran pembantaian masif? Kematian dan posisi tak seimbang – karena bukan perang atau konflik yang terjadi antara Muslim Rohingya dengan mayoritas Budha maupun Pemerintah Myanmar – tidak bisa lagi diabaikan para petinggi ASEAN. Tidak boleh lagi semua urusan diplomatik berjalan seolah-olah etnis Rohingya hanya urusan dalam negeri biasa saja bagi Myanmar, memaklumi ‘sedikit debu’ yang mengotori halaman negara ASEAN lainnya karena gelombang manusia perahu dari Myanmar. Malaysia bisa berang ketika kebakaran hutan di Indonesia mengirim asap ke wilayahnya, tapi tidak ada tekanan serius ketika gelombang manusia perahu dari Myanmar bertahun-tahun menyelamatkan diri ke Malaysia hingga jumlahnya tak kurang dari 45 ribu jiwa. Sementara Indonesia juga merasa benar dengan mendeportasi pencari suaka Rohingya bertahun-tahun silam, sebelum menjadi semasif belakangan ini.

Tahun 2013, Presiden SBY juga ke Myanmar menandatangani sejumlah  Memorandum of Understanding, pada 23-24 April 2013, sebagai tindak lanjut kunjungan Menko Bidang Perekonomian saat itu, Hatta Rajasa, membawa PT Timah Tbk, Bukit Asam, Pertamina, Garuda Maintenance Facility Aera Asia (GMFAA), Antam, PT Pupuk Indonesia, PLN, Wijaya Karya, Telkom Internasional, PT DI, Bulog, PT Inti dan Indofarma. Selain itu, kunjungan pemerintah Indonesia 1 April 2013 ke Myanmar juga membawa pengurus Kadin.  Semua mengalir normal tanpa menyuarakan hilangnya beribu jiwa Muslim Rohingya. Seolah Myanmar tidak sedang menghabisi Muslim Rohingya, dan kita tidak terusik dengan melanjutkan urusan perekonomian kedua negara.

Jalan pun sejenak bersimpang antara pegiat kemanusiaan di ASEAN (dan dunia) dengan sikap sejumlah Kepala Negara di Kawasan ASEAN ini, yang tahun 2014 menjadikan Presiden Myanmar sebagai Chair (Ketua) ASEAN. Lembaga kemanusiaan ASEAN, seperti halnya lembaga kemanusiaan dunia lainnya, menjadikan Muslim Rohingya salah satu top issue sasaran pemberian pertolongan. Tapi tidak dengan para Kepala Negara di ASEAN. Sampai kemudian gelombang manusia perahu, membuka mata dan hati dunia. Banyak bangsa memandang Indonesia, Thailand, Bangladesh dan Malaysia. Negara-negara ini – seperti halnya Myanmar, dalam urusan Rohingya (plus isu ikutannya: imigran Bangladesh), menjadi serba rikuh menyikapinya.

Tapi kemudian situasi akar rumput terutama di Malaysia dan Indonesia, mengguncang nurani. Heroisme nelayan Aceh, membangunkan dunia dan rakyat di ASEAN. Meski berbeda dengan jalan pikiran pemerintahnya, masyarakat Malaysia dan Indonesia, bersimpati dan menguatkan masyarakat sipil peduli ‎Rohingya. Spontanitas nelayan Aceh menjemput manusia perahu langsung di lautan, menjadi inspirasi yang mendunia. Nelayan, kaum kecil yang hidup subsisten dengan menjala ikan itu, menyisihkan kesempatannya melaut demi menyelamatkan Muslim Rohingya. Di pantai Seneuddon (Aceh Utara) beratus orang, lalu di Kuala Langsa (Aceh), pun di Kuala Geuleumpang, Julok, Aceh Timur.

Masyarakat sipil dunia pun terpesona, lalu bersinergi. Semua menaruh harapan pada masyarakat sipil Indonesia yang sudah dikenal humanis di dunia melalui kerja-kerja kemanusiaan di krisis kemanusiaan Palestina, Somalia, Suriah, badai Haiyan di Filipina, dan banyak lagi.
 
ACT pun menghadapi suasana batin serupa: sejumlah simpatisan baru tidak hanya menitipkan amanah menolong Muslim Rohingya, tapi juga menyampaikan gelombang amanah rekan-rekannya dari berbagai bangsa. Seperti halnya nelayan Aceh yang menjemput Muslim Rohingya ke lautan, kepedulian itu tidak lagi kami jemput dan kami ingatkan tapi mereka yang mendatangi dan menghubungi kami untuk secepatnya menolong Muslim Rohingya.

Deklarasi Komite Nasional untuk Solidaritas (KNSR) Aceh di Langsa, diwarnai hujan tangis saat Mohamad Adenan (48 tahun)‎ warga Gampong Kuala, menceritakan kejadian saat ia menolong pencari suaka dari Myanmar. "Saya hanya bisa membawa 45 orang, sudah sesak perahu saya. Saya perahu terakhir yang mengangkut orang-orang Rohingya itu dari kapal kayu mereka, dan menyaksikan ratusan orang meninggal tanpa bisa kami tolong." Ia amat terpukul, melihat begitu banyak kematian di depan mata.

Keharuan merebak ke seantero jagat. Masyarakat sipil dunia bersatu untuk Muslim Rohingya. Isu “Muslim” tidak menjadi hambatan lintasagama, karena azas kemanusiaan melintasinya. Siapa menghalangi pemberian pertolongan kepada Muslim  Rohingya, sama dengan menghadang akal sehat dan kekuatan masyarakat sipil dunia. Akal sehat ini harus juga eksis di benak para pemimpin kawasan ASEAN.

Pemerintah berbagai negara, ikut bersimpati dan menunjukkan kemanusiaannya. Dipicu bergegasnya Turki mengirim Armada Angkatan Laut nya untuk menyelamatkan Rohingya yang masih terombang-ambing di lautan, Amerika menawarkan diri meringankan beban negara-negara ASEAN yang tak kunjung tegas menyatakan siap menampung pencari suaka yang malang itu. Thailand pun melunak, takkan menghalau manusia perahu yang memasuki wilayahnya; sementara Malaysia ‎tak mau kalah dengan Turki, menjemput Rohingya yang masih di lautan dan menyelamatkannya.








BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA