Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Bhayu Subrata dan Pratama Widodo (Penggagas Gerakan One Day One Juz): Menjadikan Baca Alquran Sebagai Gerakan

Kamis 30 Apr 2015 14:00 WIB

Red:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bhayu Subrata, sosok pria sederhana yang telah mengubah dan menggerakkan hati umat Islam di Indonesia. Pria yang saat ini bertempat tinggal di sebuah desa kecil di  Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu merupakan seorang penggerak dan penggagas One Day One Juz (ODOJ). Tokoh lainnya adalah Pratama Widodo, yang juga merupakan temannya saat masih sama-sama tinggal di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Widodolah yang melebarkan media dakwah 1day1juz (nama lain "One Day One Juz" sebelumnya) Bhayu Subrata dari sekadar SMS dan blog ke Facebook. Setelah itu gerakan  One Day One Juz berkembang melalui berbagai media di dunia maya, seperti WA, Twitter, BBM dan situs. Pengikut One Day One Juz atau biasa disebut ODOJers saat ini mencapai lebih 140 ribu orang, tersebar tidak hanya di dalam negeri tapi juga hingga ke mancanegara.

Berikut wawancara wartawan Republika, Irwan Kelana dan Wilda Fizriyani, serta fotografer Raisan dengan Bhayu Subrata dan Pratama Widodo di rumah Bhayu yang sederhana, di Purwokerto, awal April 2015.
 
Dari manakah ide awal metode One Day One Juz  (ODOJ) muncul?

(Bhayu Subrata): Gagasan awalnya bermula dari pandangan saya terhadap umat Islam yang berada di sekitar saya. Saya melihat prioritas umat Islam terhadap tadarus sangat kecil. Padahal Alquran itu memiliki fungsi sebagai petunjuk bagi umat Islam.

Ketika saya melihat kondisi itu, saya merasa sangat prihatin. Saya prihatin ternyata banyak umat Islam yang tidak menjadikan baca Alquran sebagai aktivitas pribadinya.

Alasan lain, karena saya ingin  punya amal unggulan yang bisa saya kuasai. Karena saya tidak bisa Tahajud tiap hari, tidak bisa shaum sunah rutin, maka saya pilih tilawah harian satu juz.
 
 Kapan Anda mulai menggunakan metode ODOJ?

(Bhayu Subrata): Awal 2004 merupakan langkah pertama saya untuk bisa menjadikan baca Alquran sebagai aktivitas saya. Saya menulis sejumlah target dalam sebuah tulisan yang kemudian saya selipkan di Alquran.

Pada tulisan itu, saya menulis tiga kategori target. Tiga target itu berkenaan dengan bacaan harian, pekanan, dan bulanan saya.
 
Pada 2005, keinginan untuk membiasakan hidup dengan Alquran semakin kuat setelah saya bertemu dengan Pak Kiai Didin Hafidhuddin. Beliau merupakan salah satu tokoh yang menjadi inspirasi saya ketika kuliah dahulu di Universitas Soedirman (Unsoed).
 
 Bagaimana metode awal yang Anda lakukan ketika itu?

(Bhayu Subrata): Ada tiga kategori yang menjadi target saya. Ketiga target itu adalah  bacaan harian, pekanan dan bulanan. Dalam kategori harian, saya mulai menargetkan kebiasaan membaca Alquran satu juz dalam sehari. Saya juga menjadikan pembacaan Al-Ma'tsurat di waktu pagi-petang dan muraja'ah Juz 'Amma (juz ketiga puluh dalam Alquran—Red)  sebagai hal saya yang lakukan setiap hari.
 
Pada kategori pekanan, saya juga menargetkan tadarus sekaligus hapalan sejumlah surat seperti ar-Rahman, al-Waqi'ah, al-Mulk, al-Kahfi, Yasin, al-Jumu'ah, dan ash-Shaaf. Saya juga menuliskan penambahan penguasaan satu surat baru menjadi target yang masuk ke dalam kategori bulanannya.
 
Untuk metode membaca Alquran satu juz dalam sehari itu, saya menggunakan rumus 2 X 5. Artinya, setiap satu shalat, saya selalu berusaha untuk membaca lembar halaman. Jadi, kalau dihitung-hitung secara keseluruhan dengan jumlah shalat wajib, kita berarti sudah membaca 10 lembar. Dengan kata lain, dalam sehari sudah membaca satu juz.
 
 Berapa lama Anda melaksanakan metode ODOJ sendirian?

(Bhayu Subrata): Setelah 2005 saya berusaha untuk mengubah diri saya lebih baik lagi untuk menggunakan metode ini. Dalam waktu beberapa tahun itu, saya memang berusaha untuk istiqamah dengan metode One Day One Juz. Waktu itu istilahnya 1day1juz. Setelah sekian tahun yakni hingga tahun 2007, saya pun mulai memperkenalkan metode ini kepada anak-anak SMA yang merupakan murid bimbel saya, melalui SMS dan blog. Hal ini saya lakukan karena metode ajakan melalui teknologi seperti SMS lebih dekat dengan generasi muda. Mereka lebih familiar dengan teknologi, termasuk gadget.
 
 Berapa lama mereka pada  mulai merespons ajakan menggunakan metode ODOJ?
 
(Bhayu Subrata): Kemungkinan besar keberhasilan itu terjadi setelah dua hingga tiga bulan. Saya melihat dalam jangka waktu tersebut, mereka pada akhirnya bisa merespons positif ajakan saya.
 
Tahun berapa Anda mulai memperluas jaringan untuk memperkenalkan metode ODOJ kepada khalayak?

(Bhayu Subrata): Tahun 2009 itu merupakan langkah saya untuk memperluas jaringan dan memperkenalkan metode ODOJ ke banyak orang. Pada walimah pernikahan saya dengan Siti Istikamah tahun 2009,  saya membagikan suvenir Al-Ma'tsurat yang di dalamnya saya selipkan metode One Day One Juz. Melihat suvenir tersebut, kawan saya, Pratama Widodo sangat tertarik, kemudian mensyiarkan metode ODOJ  melalui  fanspage Facebook.
 
 Bagaimana caranya ODOJ bisa semakin dikenal masyarakat Indonesia hingga mancanegara pada masa kini?
 (Pratama Widodo): Selain karena fanspage yang kita buat, kontribusi para ODOJers (komunitas  ODOJ)  juga ikut berpengaruh. Saya rasa perkembangan ODOJ ini terjadi karena usaha dan kreativitas para ODOJers di sejumlah wilayah terutama di Jakarta untuk mensyiarkan metode ODOJ.

Pada tahun 2013, kami menerima SMS dari salah satu ODOJers yang tertarik dengan metode ODOJ-nya itu.  Mas Fatah Yasin  izin ke saya untuk mengembangkan ODOJ dan kami pun mempersilakannya.
 
Pada November 2013, kami pun  mendapat informasi yang cukup membanggakan sekaligus kejutan dari grup pecinta Alquran yang melakukan tadarus dengan metode One Day One Juz itu. Kami mendengar ketika itu grup dengan sebutan ODOJ pun berkumandang di antara masyarakat Islam Indonesia. Formatnya pun lebih tampak inovatif, yakni dengan menghadirkan 30 orang per satu grup yang kemudian berkembang melalui media sosial serupa BBM, Whatsapp, Twitter, website, dan sebagainya.
 
 Bagaimana perasaan Anda melihat metode ODOJ yang tampak memiliki pengaruh kuat bagi umat Islam yang ingin membiasakan diri untuk bertadarus?

 (Bhayu Subrata): Saya sangat terharu dan ingin menangis dengan berkembangnya ODOJ ini. Saya tidak pernah menyangka bisa sebesar ini pengaruhnya. Tidak pernah terpikirkan sediki pun bahwa ODOJ bisa berkembang ke berbagai wilayah bahkan mancanegara.

Dahulu saya hanya memiliki niat karena Allah SWT. Saya tidak mengharapkan apa pun selain mensyiarkan ajaran Allah SWT dengan tadarus Quran yang menggunakan metode ODOJ. Saya benar-benar bersyukur.
 
 Apa momentum yang paling terpenting dari perjalanan ODOJ?

(Bhayu Subrata): Soft launching ODOJ pada 2013 termasuk momen penting dari perjalanan ODOJ. Sebab, dari masa inilah, metoode One Day One Juz saya itu pun memasangkan nama barunya, yakni ODOJ. Benar-benar kreatif!

Awalnya, saya dan Widodo menyebutnya "1day1juz". Waktu itu sempat terpikir oleh kami untuk memakai nama "One Day One Juz" atau ODOJ, meniru-niru gerakan tahfizh Ustaz Yusuf Mansur dengan "One Day One Ayat" atau ODOA. Namun, waktu itu kami merasa nama "ODOJ' terdengar janggal. Tapi setelah soft launching, nama ODOJ rasanya pas sekali.
 
(Pratama Widodo): Momen grand launching ODOJ pada Mei 2014 juga menjadi hal yang tak terlupakan. Hal ini karena pada waktu tersebut, ODOJ resmi menjadi komunitas. Selain itu, pada acara tersebut, ODOJ juga berhasil mendatangkan 50 ribu orang untuk bersama-sama membaca Alquran dengan metode ODOJ di Masjid Istiqlal Jakarta. Bahkan, acara ini juga mendapatkan penghargaan rekor dunia dari MURI,  baik rekor nasional maupun internasional jumlah pembaca Alquran terbanyak dalam satu waktu.
 
Bagaimana perkembangan jumlah anggota ODOJ?

(Pratama Widodo): Yang pasti jumlah anggota kami semakin banyak. Yang terdaftar sebagai followers ODOJ sebanyak 140 ribu orang.
 
 Mengenai metode, sebenarnya seperti apa sajakah metode yang ditawarkan ODOJ? Apakah hanya menggunakan metode 2 X 5?
 (Bhayu Subrata): Metode dasar kami disebut sebagai Jurus Lebah. Jurus ini cocok untuk dilakukan oleh semua orang terutama bagi para pelajar. Pada jurus ini, ODOJers menggunakan rumus 2 X 5 untuk tadarus Qurannya, yakni setiap selesai shalat lima waktu lalu membaca Alquran dua lembar. Lima kali shalat fardhu berarti tadarus 10 lembar Alquran atau satu juz.
 
Metode kedua merupakan jurus Paus yang dinilai lebih cocok bagi mereka pekerja yang  sibuk. Jadi, mereka membagi dua waktu untuk menguasai satu juz dalam sehari. Misalnya, ba'da shalat Subuh lima lembar, dan ba'da shalat Maghrib lima lembar.
 
Untuk metode ketiga dikenal dengan sebutan jurus Kuda Pacu. Nah, jurus ini sangat cocok bagi mereka yang sangat sulit untuk membagi waktu. Untuk membaca satu juz, mereka menggunakan satu waktu shalatnya secara langsung untuk menghabiskan bacaan satu juznya.

Lalu ada lagi metode dengan sebutan Jurus Kerbau. Jurus ini merupakan tadarus Quran yang bisa dilakukan di mana dan kapan saja.
 
 Bagaimana dengan anak-anak atau orang yang sangat sulit bertadarus satu juz sehari?
Pratama Widodo): Kami punya program pilihan lainnya, yakni ODOL dan ODALF. ODOL merupakan kepanjangan dari One Day One Lembar. Program ini kami utamakan bagi anak-anak untuk menjadikan tadarus sebagai kebiasaan mereka kelak. Sedangkan ODALF merupakan kepanjangan dari One Day One Half Juz. Program ini kami khususnya bagi mereka yang benar-benar tidak mampu menguasai satu juz dalan sehari.
 
  Saat ini ODOJ sudah semakin dikenal, adakah target yang belum dicapai?
 (Bhayu Subrata): Saya memiliki cita-cita untuk membuat stasiun TV ODOJ baik untuk ranah regional maupun nasional. Stasiun ini diharapkan bisa mengajak umat Islam di Indonesia lebih baik lagi terutama dalam bertadarus Quran. ed: Irwan Kelana
 
***
infografis

ODOJ:

Tahun 2004, Ustaz Bayu mulai membuat rutinitas membaca Alquran One Day One Juz
Tahun 2005, Semakin semangat menjalani rutinitas setelah bertemu Didi Hafidhuddin
Tahun 2007, Ustaz Bayu Subrata menyerukan 1 day 1 juz via sms, blog dan buku saku
Tahun 2009, Ustaz Bayu menyelipkan metode One Day One Juz di souvenir pernikahannya
Tahun 2009, Ustaz Pratama Widodo memprakarsai fanspage One Day One Juz
Tahun 2011, One Day One Juz BBM mulai digunakan oleh beberapa lembaga Alqur'an
Tahun 2013, Ustaz Bayu menerima sms dari ODOJers yang ingin mengembangkan metodenya
September Tahun 2013, Ustazah Nurkholifa memperkenalkan One Day One Juz whatsapp
November 2013, Soft Launching One Day One Juz dengan sebutan ODOJ
Mei 2014, Grand Launching ODOJ di Masjid Istiqlal

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA