Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Putin Mengaku Siap Kerja Sama dengan AS

Ahad 19 Apr 2015 01:20 WIB

Rep: c25/ Red: Satya Festiani

Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden Rusia Vladimir Putin.

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, MOSCOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin, dalam sebuah wawancara televisi pada Sabtu (19/4) mengatakan kalau Rusia memiliki kunci kepentingan yang sama dengan Amerika Serikat dan kebutuhan untuk bekerja pada agenda bersama.

Dalam komentarnya kepada saluran Rossiya yang dikelola negara, Putin tampaknya melunakkan retorika anti-Amerika setelah sebelumnya sangat kritis. Hubungan antara Moskow dan Washington dan negara Barat lainnya telah memburuk selama konflik di Rusia tetangga Ukraina, tenggelam ke terendah sepanjang waktu.

"Kami memiliki perbedaan pendapat pada beberapa isu dalam agenda internasional. Tetapi pada saat yang sama, ada sesuatu yang menyatukan kita, yang memaksa kita untuk bekerja sama," kata Putin.

"Maksudku upaya umum diarahkan untuk membuat perekonomian dunia yang lebih demokratis, terukur dan seimbang, sehingga tatanan dunia yang lebih demokratis. Kami memiliki agenda bersama," lanjutnya.

Di masa lalu, Putin sengit menyerang Amerika Serikat dan Barat pada umumnya, menyalahkan mereka atas krisis Ukraina, yang mengatakan Rusia adalah hasil dari "kudeta" yang didukung Barat terhadap mantan pemimpin Ukraina Viktor Yanukovych.

Rusia telah berulang kali membantah tuduhan dari Kiev dan Barat yang mendukung pemberontak pro-Rusia dengan pasukan dan senjata di bagian timur Ukraina, di mana lebih dari 6.000 orang telah tewas sejak April lalu.
Komentar terakhirnya terjadi dua hari setelah sambungan telfon di TV dalam acara tahunan di mana Putin menuduh Amerika Serikat mencoba untuk mendominasi urusan dunia, mengatakan pihaknya  "tidak sekutu, tapi pengikut".
Namun, kritik tentang Barat lebih moderat daripada di beberapa penampilan sebelumnya. Namun, baik Rusia dan Barat mengatakan mereka kembali pada perjanjian damai yang disepakati di Minsk pada bulan Februari, sebagai akibat dari gencatan senjata di wilayah Donbass, yang sebagian besar dimenangkan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA