Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Ekonom: Ada Momentum Bagi Iran Geser Keseimbangan Ekonomi Teluk

Rabu 08 Apr 2015 16:30 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Agung Sasongko

Kilang minyak Iran.

Kilang minyak Iran.

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Ekonom kelahiran Iran Mehrdad Emadi mengatakan, ledakan yang dihasilkan dari pencabutan sanksi Iran dapat berimbas baik pada perusahaan lokal maupun asing. Ini akan menggeser keseimbangan ekonomi di Teluk, yang sejauh ini sangat berat terhadap negara-negara pengekspor minyak di Teluk Arab.

"Pembicaraan sudah dimulai antara Iran dan beberapa investor besar di Barat mengenai berbagai bidang seperti minyak dan otomotif. Saat ini akan ada percepatan momentum," kata Emadi.

Emadi memperkirakan pertumbuhan tahunan ekonomi Iran akan meningkat sebanyak dua poin presentase dari lima persen tahun lalu, setelah kesepakatan. Pertumbuhan diperkirakan akan mencapai 420 miliar dolar Amerika Serikat.

Dalam sektor perdagangan, kerjasama Iran dan Uni Eropa tahun lalu mencapai 8,3 miliar dolar. Setelah pengangkatan sanksi diperkirakan sektor perdagangan akan meningkat hingga 400 persen pada pertengahan 2018.

Terdepak dari sistem perbankan internasional dan perdagangan luar negeri akibat sanksi, Iran sepertinya akan menjadi negara terbesar untuk bergabung kembali dengan ekonomi global. Ini merupakan momentum kedua, setelah sebelumnya Eropa Timur bergabung kembali pasca-Komunisme pada awal 1990an.

Namun untuk sektor-sektor yang kompleks seperti keuangan, perkapalan, energi dan teknologi, diperkirakan akan memakan waktu lama untuk mencabut sanksi. Di sektor energi seperti minyak misalnya, pemulihan mungkin baru bisa dilakukan setelah 2016.

Seperti dilansir The Washington Post, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan ekspor minyak Iran rata-rata sekitar satu juta barel per hari tahun lalu. Sanksi yang dijatuhkan AS pada Iran telah berhasil menekan beberapa pelanggan terbaik Iran seperti Cina, Jepang, Korea Selatan dan India untuk mengurangi impor minyak Iran mereka. Padahal IEA memperkirakan Iran dapat dengan mudah menghasilkan 750 ribu barel per harinya.

Seorang ekonom di perusahaan IHS Bryan Plamondon mengatakan, perekonomian Iran mengalami kontraksi sekitar dua sampai tujuh persen pada tahun fiskal 2013. Ia mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi Iran meningkat 3,5 persen tahun lalu namun harga minyak yang rendah menyeret perekonomian kembali ke resesi tahun 2015 ini.

"Iran sangat dipengaruhi oleh sanksi," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA